WIKA mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah Aljazair untuk proyek pembangunan 1.700 unit rumah bersubsidi.

LEMBAGA Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memberikan Kredit Modal Kerja Ekspor (KMKE) melalui skema Penugasan Khusus/National Interest Account (NIA) kepada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) untuk proyek pembangunan perumahan bersubsidi (lodgement) di Aljazair dan potensi pembiayaan untuk proyek di kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.

Hal ini merupakan bentuk dukungan Pemerintah untuk meningkatkan ekspor khususnya ke Negara-Negara Non Tradisional dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Republik Indonesia Nomor 1/KMK.08/2019 tentang Penugasan Khusus kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk Mendorong Ekspor ke Negara Kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah. 

“Kita berharap ini merupakan salah satu bentuk misi mengekspor jasa dalam hal ini jasa konstruksi ke negara-negara yang dianggap non tradisional,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati usai menyaksikan Penandatanganan Perjanjian Fasilitas Kredit Modal Kerja Ekspor (KMKE) melalui Skema Penugasan Khusus/National Interest Account (NIA) di Kantor Pusat LPEI pada Rabu (27/03).

WIKA sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang engineering (teknik), procurement (pengadaan), dan construction (konstruksi) (EPC), mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah Aljazair untuk proyek pembangunan 1.700 unit rumah bersubsidi (lodgement) di Baraki dan El-Harrach wilayah Algier serta 2.250 unit di Ain Defla dan Khemis Miliana wilayah Blida senilai Rp187,7 miliar. 

“Ini juga salah satu bentuk pelaksanaan yang disebut National Interest Account (NIA), suatu misi untuk melakukan peningkatan kapasitas dari perekonomian dan industri kita untuk bisa menembus pasar internasional melalui dukungan penuh dari LPEI baik itu di sektor manfaktur maupun di sektor jasa,” kata Menkeu.  

Proyek pembangunan rumah bersubsidi (lodgement) di Aljazair yang dilaksanakan oleh WIKA secara langsung maupun tidak langsung memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi negara dan masyarakat Indonesia yang diantaranya adalah mendorong strategi peningkatan ekspor ke negara non tradisional serta membuka lapangan dan kesempatan kerja langsung bagi 1.343 tenaga kerja Indonesia. 

Manfaat lainnya adalah peningkatan nilai ekspor, daya saing produk dan jasa Indonesia khususnya jasa konstruksi di pasar internasional, penetrasi pasar ke kawasan Afrika, dan peningkatan nilai perdagangan bilateral Indonesia.  

Menkeu berharap lebih banyak perusahaan dari Indonesia makin meningkatkan kemampuan untuk go international dengan memanfaatkan pembiayaan dari LPEI.  

“Saya berharap perusahaan di Indonesia makin meningkatkan kemampuan untuk hadir di pasar internasional dan dengan adanya LPEI. Kita bisa mendukung dengan modal kerja ataupun jaminan terhadap wanprestasi kalau mereka menghadapi kontrak dari pihak sana yang tidak terealisir. Ini akan semakin menambah kemampuan atau confidence mereka untuk masuk ke pasar internasional,” kata Menkeu.[]