Sebanyak 129 orang menjadi korban tewas dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, saat laga Arema versus Persebaya Surabaya di ajang BRI Liga 1, Sabtu (01/10) kemarin.

Tragedi yang terjadi pada Derbi Jawa Timur itu disebut-sebut menimbulkan korban jiwa kedua terbanyak sepanjang sejarah insiden sepak bola di dunia.

Kisruh sepak bola memang banyak terjadi di banyak liga di belahan dunia. Sejarah mencatat bahwa kisruh sepak bola mengakibatkan puluhan hingga ratusan korban tewas.

Tragedi terbesar dikabarkan terjadi di Peru pada 24 Mei 1964. Saat itu, Estadion Nacional menggelar babak kualifikasi kedua Olimpiade Tokyo antara Peru vs Argentina.

Kerusuhan mulai terjadi usai wasit menganulir gol dari Timnas Peru. Seorang suporter kemudian menerobos masuk ke lapangan dan memukul wasit.

Polisi yang berada di lokasi kejadian lalu mengamankan dan menghajar pria itu secara brutal. Akibatnya, kerumunan suporter pun kemudian tak terhindarkan.

Kerusuhan menjadi semakin parah dan menyebabkan 328 orang tewas karena sesak napas dan/atau pendarahan internal. Bahkan disebutkan kemungkinan jumlah korban tewas dalam peristiwa tersebut lebih banyak.

Sebelum tragedi di Kanjuruhan, tragedi terbesar kedua terjadi di Afrika. Insiden itu terjadi pada 9 Mei 2001 di Stadion Accra Sports, Kinbu Road, Accra, Ghana.

Saat itu tengah berlangsung pertandingan derby antara tuan rumah Hearts of Oak dengan sesama klub dari Accra, Asante Kotoko. Tim tamu unggul 1-0 mendekati akhir pertandingan, namun tuan rumah mencetak dua gol untuk berbalik unggul pada laga tersebut.

Menjelang pertandingan usai, tepatnya di lima menit terakhir, para pendukung Asante Kotoko mulai menjebol kursi dari tribune dan langsung melemparkannya ke lapangan karena merasa frustasi. Polisi pun menembakkan gas air mata ke arah kerumunan yang menyebabkan kepanikan.

Kondisi saat itu diperparah karena gerbang stadion terkunci dan mengakibatkan para penonton tidak dapat keluar dari stadion. Dikabarkan sebanyak 126 korban tewas akibat kekurangan oksigen.

Atas kejadian tersebut, enam polisi didakwa atas pembunuhan. Anak-anak dari para korban kemudian diberikan beasiswa khusus oleh Pemerintah Ghana.


Tragedi-tragedi Terbesar di sepak bola dunia

Tragedi Hillsborough
- Tragedi Hillsborough terjadi di semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest pada Sabtu 15 April 1989.

Musibah yang fatal itu terjadi pada pertandingan yang diadakan di Stadion Hillsborough di Sheffield ketika kerumunan masa merangsek penggemar yang memadati penghalang di tribun yang dialokasikan untuk pendukung Liverpool.

Banyak korban yang tewas saat berdiri dan lapangan sepakbola seketika menjadi rumah sakit darurat. 

Dengan total 97 korban jiwa dan 766 cedera, tragedi Hillsborough menjadi kasus terburuk dalam sejarah olahraga Inggris.

Tragedi Kathmandu, Nepal
- Badai es terjadi saat 30 ribu orang menonton pertandingan Nepal melawan Bangladesh pada Maret 1988. Setidaknya ada 93 orang tewas dan 100 orang lainnya terluka saat penggemar berusaha melarikan diri dari hujan es.

Tragedi Guatemala City, Guatemala
- Sebanyak 80 orang meninggal dan lebih dari 100 orang luka luka dari longsoran suporter yang jatuh dari kursi dan tangga pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Guatemala dan Kosta Rika pada Oktober 1996.

Tiket palsu dilaporkan menarik lebih banyak orang ke stadion dari kapasitas yang bisa ditampung.

Tragedi Port Said, Mesir
- Kerusuhan suporter di akhir pertandingan di kota Port Said ketika tim lokal al-Masry mengalahkan Al Ahli, salah satu klub tersukses Mesir, 3-1.

Dalam peristiwa yang terjadi pada Februari 2012 itu, sedikitnya 73 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.

Tragedi Glasgow, Skotlandia
-Tragedi sepak bola yang memakan banyak korban juga terjadi di Skotlandia pada  Januari 1971.

Saat itu, pembatas di tangga runtuh saat penonton meninggalkan pertandingan antara Rangers dengan Celtic di Glasgow. Akibat kejadian tersebut menewaskan 66 orang, termasuk anak-anak.

Tragedi Moskow, Rusia
-Pada Oktober 1982 di Rusia, fans berjatuhan saat mereka meninggalkan pertandingan piala UEFA antara Moscow Spartak dan tim Belanda HFC Haarlem di stadion Luzhniki di Moskow.

Pejabat bekas Uni Soviet tidak mengungkapkan tragedi itu selama bertahun-tahun. Ketika informasi disebar ke publik, mereka memberikan data angka kematian resmi mencapai 66, meski jumlahnya bisa mencapai 340 orang.