Setelah bertahun-tahun mengalami penurunan jumlah, dunia telah melihat peningkatan yang mengkhawatirkan dalam wabah kolera selama setahun terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperingati kewaspadaan penyakit ini pada konferensi pers PBB di Jenewa, Jumat (30/09/2022).

“Kita tidak hanya memiliki lebih banyak wabah, tetapi wabah itu sendiri lebih besar dan lebih mematikan,” kata Kepala Bagian Penyakit Kolera dan Epidemi Diare Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), Philippe Barboza.

Dikatakan Barboza, dalam sembilan bulan pertama tahun 2022 saja, 26 negara telah melaporkan wabah kolera. 

Menurutnya ada kekhawatiran yang meningkat tentang Afrika selatan, anak benua India dengan India, Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, dan Nepal, serta negara-negara tetangga, dan situasinya dapat menyebar ke negara-negara lain yang terkena dampak seperti Lebanon.

Antara tahun 2017 dan 2021, kurang dari 20 negara melaporkan wabah kolera setiap tahun.

“Rata-rata case fatality rate yang dilaporkan pada 2021 hampir tiga kali lipat dibandingkan lima tahun sebelumnya. Di Afrika, di mana kami memiliki lebih banyak data yang tersedia, tingkat kematian kasus setinggi tiga persen,” kata dokter WHO tersebut.

Perubahan iklim meningkatkan ancaman bagi penyakit purba. Barboza menjelaskan kolera adalah penyakit kuno, tetapi WHO membicarakannya hari ini karena menyangkut perubahan yang perlu mendapat perhatian dunia. Meskipun kolera dapat membunuh dalam beberapa jam, pengobatannya sederhana.

"Ini membutuhkan rehidrasi, termasuk rehidrasi oral sederhana dan antibiotik untuk kasus yang lebih parah. Tetapi kenyataan sulitnya adalah banyak orang tidak memiliki akses tepat waktu ke sana," kata Barboza.

 Dia mengatakan pemicu wabah kolera adalah kemiskinan dan konflik terus berlangsung, tetapi saat ini perubahan iklim semakin memberikan ancaman yang lebih besar. 

"Peristiwa iklim ekstrem seperti banjir, angin topan, dan kekeringan semakin mengurangi akses ke air bersih dan menciptakan lingkungan yang ideal bagi kolera untuk berkembang biak," kata dokter WHO itu.

"Ketika dampak perubahan iklim meningkat, kita dapat memperkirakan situasinya akan memburuk kecuali kita bertindak sekarang untuk meningkatkan pencegahan kolera,” jelasnya.

WHO menyarankan agar wabah kolera dapat dicegah dengan memastikan akses ke air bersih dan sanitasi dasar dan kebersihan. Juga dibutuhkan adalah peningkatan pengawasan, akses ke perawatan kesehatan, dan keterlibatan masyarakat yang efektif.

 "Meskipun banyak negara yang terkena dampak kolera secara aktif terlibat dalam upaya ini, mereka menghadapi berbagai krisis termasuk konflik dan kemiskinan, dan inilah mengapa tindakan internasional sangat penting," kata Barboza.

 Misalnya, pada 28 September, di Suriah, otoritas kesehatan melaporkan wabah kolera di 10 provinsi (Aleppo, Al Hasakah, Deir Ez-Zor, Raqqa, Latakia, Homs, Sweida, Daraa, Quneitra, dan Damaskus) dengan total 33 kematian dan 426 kasus dikonfirmasi. 

"Situasinya berkembang secara mengkhawatirkan di kegubernuran yang terkena dampak dan meluas ke yang baru," kata Barboza.

WHO menindaklanjuti secara dekat dengan semua mitra kesehatan untuk menahan wabah, dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut melalui peningkatan pengawasan kolera di daerah berisiko tinggi dan menyediakan sumber daya untuk memerangi penyakit.