Carlos Filipe Ximenes Belo atau yang dikenal sebagai Uskup Belo dari Timor Leste tengah menjadi sorotan. Namanya dikaitkan dengan dugaan pelecehan seksual anak-anak.

Uskup Belo, demikian ia akrab disapa di Timor Leste dan Indonesia, adalah pemuka agama yang pernah menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 1996.

Majalah mingguan Belanda De Groene Amsterdammer menerbitkan laporan investigasi yang mengungkap dugaan pelecehan seksual Belo terhadap beberapa anak laki-laki di kediamannya di Dili dan tempat-tempat lain pada periode 1980-an dan 1990-an. Liputan investigasi itu dimulai pada 2002.

Berdasarkan investigasi De Groene Amsterdammer, jumlah korban diduga lebih banyak lagi. De Groene berbicara dengan 20 orang yang mengetahui kasus ini seperti pejabat tinggi, pejabat pemerintah, politisi, pekerja LSM, orang-orang dari gereja dan profesional.

Lebih dari separuh dari mereka secara pribadi mengenal seorang korban, sementara yang lain tahu tentang kasus tersebut dan sebagian besar membahasnya di tempat kerja. 

De Groene juga berbicara dengan korban lain yang tidak mau menceritakan kisah mereka di media.

Vatikan pada Kamis (29/09) merespons temuan laporan De Groene. Vatikan menyatakan pihaknya telah memberikan sanksi kepada Uskup Belo.

Juru bicara Vatikan Matteo Bruni mengatakan Uskup Belo pertama kali diselidiki oleh Vatikan pada 2019, di tengah tuduhan bahwa dia telah memperkosa anak-anak dan membayar tutup mulut mereka.

"Mengingat tuduhan yang diterimanya (Uskup Belo), (Vatikan) memberlakukan pembatasan disipliner tertentu padanya pada September 2020," kata Bruni, dikutip dari Kantor berita AFP.

Sanksi ini termasuk berupa pembatasan gerak dan pelaksanaan pelayanan Uskup Belo.

Uskup Belo juga dilarang melakukan kontak sukarela dengan anak di bawah umur, wawancara dan kontak dengan Timor Leste.

"Langkah-langkah itu dimodifikasi dan diperkuat pada tahun 2021, dan Belo secara resmi menerimanya," kata Bruni.

Uskup Belo lahir pada 3 Februari 1948 di Wailacama, Timor Leste. Dia dibesarkan dalam keluarga petani dan mulai tertarik pada pertanyaan agama sejak usia dini. Kemudian dia ditahbiskan menjadi imam Katolik pada 1981.

Tak lama setelah terpilih sebagai kepala gereja Katolik di Timor Timur pada 1983, Carlos Belo secara terbuka mengecam invasi Indonesia ke Timor Leste.

Uskup Belo mendapatkan pengawasan bahkan diintimidasi saat berjuang. Namun, dia tidak mundur dan terus berbicara untuk perlawanan tanpa kekerasan terhadap penindasan.

Pada 1989 ia menuntut agar PBB mengatur plebisit di Timor Timur. Setelah pembantaian berdarah dua tahun kemudian, ia membantu menyelundupkan dua saksi ke Jenewa, di mana mereka menggambarkan pelanggaran tersebut kepada Komisi Hak Asasi Manusia PBB.

Perjuangan Belo mendapat simpati Paus di Roma, yang ditunjukkan dengan mengunjungi Timor Timur pada akhir 1980-an.

Tiba-tiba Belo mengundurkan diri sebagai kepala gereja. Paus membebaskannya dari tugasnya pada 26 November 2002.

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian mengatakan dia menderita 'kelelahan fisik dan mental.' Pada Januari 2003, Belo meninggalkan Timor-Leste, secara resmi untuk memulihkan diri di Portugal.

Setelah berbicara dengan prefek Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa dan rektor mayor kongregasi Salesian, dia memilih posisi baru, katanya dalam sebuah wawancara dengan agen Katolik UCA News. Pada Juni 2004 ia menjadi 'asisten imam' di Maputo, Mozambik.