Pipa gas Nord Stream 1 dan 2 yang berada di perairan Denmark mengalami kebocoran dengan gelembung menyebar dari diameter 200 hingga 1.000 meter. Jalur pipa gas tersebut menghubungkan Rusia dan negara-negara Eropa

Ledakan yang terekam sebelum kebocoran misterius itu meningkatkan kecurigaan sabotase di tengah ketegangan perang Rusia-Ukraina.

Foto yang diambil oleh militer Denmark menunjukkan gelembung di permukaan air yang berasal dari tiga kebocoran di perairan Swedia dan Denmark di utara Polandia.

"Kebocoran terbesar adalah menyebarkan gelembung berdiameter satu kilometer (0,62 mil). Yang terkecil adalah menciptakan lingkaran berdiameter sekitar 200 meter (656 kaki)," tulis militer.

Terkait kebocoran jalur pipa gas tersebut, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen mengatakan "sulit membayangkan bahwa itu tidak disengaja".

Sementara Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki mengatakan belum mengetahui lebih rinci peristiwa tersebut. Namun, ia menilai kebocoran pipa gas itu karena tindakan sabotase.

"Kami melihat dengan jelas bahwa itu adalah tindakan sabotase, yang mungkin menandai langkah selanjutnya dari eskalasi situasi di Ukraina," ujarnya.

Gedung Putih secara blak-blakan mengatakan peristiwa di Laut Baltik itu hasil dari sabotase yang nyata.

Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), Jake Sullivan pada Selasa malam mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan rekannya dari Denmark tentang kebocoran pipa gas yang disebut Sullivan sebagai sabotase yang nyata.

"Saya berbicara dengan rekan saya Jean-Charles Ellermann-Kingombe dari Denmark tentang sabotase nyata dari pipa Nord Stream," cuit Sullivan.

"AS mendukung upaya untuk menyelidiki dan kami akan melanjutkan pekerjaan kami untuk menjaga keamanan energi Eropa," imbuhnya seperti dikutip dari ABC News, Kamis (29/09).

Sebelumnya Rusia menyatakan mereka "sangat prihatin" tentang kebocoran tersebut. Ditanya oleh wartawan apakah itu bisa menjadi tindakan sabotase, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa saat ini "tidak mungkin untuk mengecualikan opsi apa pun".

Sementara Ukraina menuding langsung ke Moskow, mengatakan itu "tidak lebih dari serangan teroris yang direncanakan oleh Rusia dan tindakan agresi terhadap Uni Eropa".