Presiden Joko Widodo (Jokowi), mengatakan,19.600 di dunia meninggal kelaparan akibat krisis pangan yang terjadi belakangan ini. Krisis pangan itu, kata Jokowi, salah satunya dipicu oleh konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung hampir setengah tahun belakangan ini. 

Menurut Jokowi mengatakan perang itu tidak hanya memicu krisis pangan. Perang, katanya, juga memicu krisis energi. Perang juga mengganggu proses pemulihan ekonomi dari dampak penyebaran pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Jokowi mengatakan masalah itu cukup serius. Apalagi, perang Rusia kemungkinan berlangsung lama. Perkiraan itu ia sampaikan setelah ia berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama 2,5 jam dan Presiden Ukraina Vladymyr Zelenskyy selama 1,5 jam. 

Karena perang berkepanjangan itu katanya, sejumlah lembaga internasional sudah memperkirakan kondisi ekonomi yang saat ini sudah cukup sulit pada tahun ini, berlanjut ke tahun depan.

"Dunia saat ini sedang mengalami posisi yang tidak gampang. Posisinya betul-betul sulit semua negara. Lembaga internasioanl menyampaiakan tahun 2022 ini sangat sulit. Tahun depan mereka menyampaikan akan lebih gelap," katanya saat membuka 'BUMN Startup Day Tahun 2022' di Tangerang, Senin (26/09/2022).

Meski berat, Jokowi meminta kepada jajarannya untuk menjadikan masalah itu sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha di dalam negeri terutama di tengah perkembangan ekonomi digital dalam negeri belakangan ini.

Jokowi mengatakan dari perkembangan ekonomi digital di dalam negeri, saat ini persentase terbesarnya masih dikuasai fintech yang proprosinya mencapai 23 persen dan ritel yang mencapai 14 persen.

Sementara untuk yang bergerak di bidang pangan dan pertanian baru mencapai 4 persen. 

"Pertanian hanya 4 persen, hati-hati ini adalah kesempatan besar karena dalam urusan pangan ada produksi, distribusi, pasar. Di sini ada peluang. Dan kalau kita lihat urusan pangan kan jadi masalah besar, yang harus dipecahkan oleh teknologi, dan itu adalah kesempatan, peluang," katanya.

Jokowi menambahkan masalah pangan tidak hanya terkait beras saja. Ada sejumlah komoditas yang bisa dikembangkan dan dijadikan produk andalan seperti sayuran, prang, beras, sorgum, sagu dan lain sebagainya.