Kata Presiden Jokowi, sedikitnya 19.600 orang di dunia meninggal kelaparan akibat krisis pangan yang terjadi belakangan ini.

Krisis pangan ini, dipicu konflik Rusia dengan Ukraina yang berlangsung hampir setengah tahun belakangan ini. Jokowi mengatakan, perang itu tidak hanya memicu krisis pangan.

Perang juga memicu krisis energi. Perang juga mengganggu proses pemulihan ekonomi dari dampak penyebaran COVID.

Jokowi mengatakan, masalah itu cukup serius. Apalagi, perang Rusia kemungkinan berlangsung lama.

Perkiraan itu ia sampaikan setelah ia berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama 2,5 jam dan PresidenUkraina Vladymyr Zelensky selama  1,5 jam. 

Karena perang berkepanjangan itu katanya, sejumlah lembaga internasional sudah memperkirakan kondisi ekonomi yang saat ini sudah cukup sulit pada tahun ini, berlanjut ke tahun depan.

"Dunia saat ini sedang mengalami posisi yang tidak gampang. Posisinya betul-betul sulit semua negara. Lembaga internasioanl menyampaiakan tahun 2022 ini sangat sulit. Tahun depan mereka menyampaikan akan lebih gelap," katanya saat membuka 'BUMN Startup Day Tahun 2022' di Tangerang, Senin pagi (26/9/2022).

Meskipun berat, Jokowi meminta kepada jajarannya untuk menjadikan masalah itu sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha di dalam negeri terutama di tengah perkembangan ekonomi digital dalam negeri belakangan ini.

Jokowi mengatakan dari perkembangan ekonomi digital di dalam negeri, saat ini persentase terbesarnya masih dikuasai fintech yang proprosinya mencapai 23 persen dan ritel yang mencapai 14 persen.

Sementara untuk yang bergerak di bidang pangan dan pertanian baru mencapai 4 persen. 

"Pertanian hanya 4 persen, hati-hati ini adalah kesempatan besar karena dalam urusan pangan ada produksi, distribusi, pasar. Di sini ada peluang. Dan kalau kita lihat urusan pangan kan jadi masalah besar, yang harus dipecahkan oleh teknologi, dan itu adalah kesempatan, peluang," katanya.

Jokowi menambahkan masalah pangan tidak hanya terkait beras saja. Ada sejumlah komoditas yang bisa dikembangkan dan dijadikan produk andalan seperti sayuran, prang, beras, sorgum, sagu dan lain sebagainya.