Kematian Mahsa Amini di Iran memicu gelombang demonstrasi. Sedikitnya 50 orang tewas akibat tindakan keras pasukan keamanan Iran dalam aksi demonstrasi protes kematian Mahsa Amini.

LSM Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Oslo mengatakan peningkatan jumlah korban terjadi setelah enam orang tewas oleh tembakan dari pasukan keamanan di kota Rezvanshahr di provinsi Gilan utara pada Kamis malam, dengan kematian lainnya tercatat di Babol dan Amol, juga di Iran utara.

IHR menambahkan ada aksi protes di sekitar 80 kota dan pusat kota lainnya sejak demonstrasi dimulai satu minggu lalu. Kelompok-kelompok hak asasi juga menunjuk kematian di wilayah Kurdistan utara tempat Amini berasal.

"Setidaknya 50 orang telah tewas sejauh ini, dan orang-orang terus memprotes hak-hak dasar dan martabat mereka. Masyarakat internasional harus mendukung rakyat Iran melawan salah satu rezim paling represif di zaman kita," kata direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam kepada AFP seperti dikutip Al Arabiya.

Sedangkan korban tewas resmi dari bentrokan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang Iran tetap sedikitnya 17, termasuk lima personel keamanan.

Negara Republik Islam Iran tengah menjadi sorotan duni pascakematian Mahsa Amini. Bahkan tagar #MahsaAmini menjadi trending topik di Twitter hingga Sabtu akhir pekan kemarin, dan mendapat perhatian dunia. Lantas siapa Mahsa Amini?

Mahsa Amini, seorang perempuan berusia 22 tahun yang berasal dari Kota Saghez, Provinsi Kurdistan. Dia adalah sosok perempuan progresif yang gemar membaca.

Keluarganya menggambarkan anak kedua dari tiga bersaudara ini sebagai gadis manis yang suka melancong, serta memiliki kegemaran terhadap musik dan seni etnis Kurdi.

Pada Jumat, 16 September 2022 waktu setempat, Amini meninggal di rumah sakit setelah tiga hari mengalami koma.

Meninggalnya seorang perempuan kelahiran 22 Juli 2000 ini bermula ketika dia bersama keluarga melakukan perjalanan ke Teheran untuk mengunjungi kerabat, Selasa, 13 September 2022.

Saat memasuki pintu masuk Jalan Raya Haqqani, dia ditangkap oleh patroli polisi moral. Amini ditangkap karena diduga melanggar aturan hijab. Tak lama kemudian, dia dilarikan ke rumah sakit karena mengalami koma.

Media setempat, Iran International melaporkan bahwa Amini menderita beberapa pukulan di kepala. Pihak keluarga juga mengatakan petugas memukulinya di mobil polisi setelah penangkapannya.

Di sisi lain, polisi menolak tuduhan tersebut, dengan mengatakan Amini dibawa ke rumah sakit karena mengalami serangan jantung. Padahal, keluarganya mengatakan dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung.

Setelah koma selama tiga hari, akhirnya Amini dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Kasra di Teheran Utara pada Jumat, 16 September 2022.

“Keadaan yang mengarah pada kematian mencurigakan dalam tahanan wanita muda berusia 22 tahun Mahsa Amini, yang mencakup tuduhan penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya dalam tahanan, harus diselidiki secara pidana," kata Amnesty International.

Atas insiden inilah yang kemudian menyulut gelombang aksi demonstrasi di Iran. Para pengunjuk rasa mengecam keras tindakan yang dilakukan oleh patroli polisi moral Iran.

Demo yang berlangsung enam malam berturut-turut ini sekaligus sebagai gerakan protes akan aturan wajib hijab yang diberlakukan di Iran sejak Revolusi Islam 1979.