Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan, pihaknya memobilisasi angkatan bersenjatanya secara parsial (sebagian). Pengumuman ini disuarakan Putin melalui pidatonya yang disiarkan, Rabu (22/09/2022).

Sebelumnya Putin disarankan Kementerian Pertahanannya agar menarik tentara cadangan ke dalam dinas aktif untuk menghadapi konflik berkepanjangan di Ukraina.

“Langkah itu masuk akal dan perlu dalam situasi tersebut (konflik),” jelas Putin, seperti dilansir dari Russia Today.

Bagi Putin, Rusia bukan lagi berperang dengan Ukraina melainkan juga berperang dengan negara-negara Barat. Putin juga sudah menandatangani perintah agar mobilisasi sebagian dapat dimulai segera.

“Langkah ini akan membuat angkatan bersenjata hanya menggunakan cadangan militer, dan mereka yang telah menyelesaikan dinas nasional,” jelas Putin.

Untuk menjamin profesionalitas dalam tugas aktif, Putin berjanji tentara cadangan akan dilatih kembali dan mendapatkan tunjangan.

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu menyatakan kementeriannya akan mengerahkan 300 ribu pasukan dari tentara cadangan, atau lebih dari 1 persen mobilisasi penuh Rusia.

Mobilisasi pasukan itu dapat membantu Rusia mengamankan garis tempur sepanjang 1.000 kilometer.

Shoigu juga menjelaskan Rusia telah kehilangan 5,397 tentara sejak awal konflik Februari lalu. Sebelumnya Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) memperkirakan sebanyak 70.000 – 80.000 pasukan Rusia tewas atau terluka dalam perang.

Keputusan yang diambil Putin diduga agar Rusia dapat menyelesaikan konflik itu secepat mungkin, seperti yang disampaikan Putin kepada Presiden Turki, China, dan India dalam pertemuan mereka di Uzbekistan pekan lalu.

Sebelum mengambil keputusan ini, Rusia sudah berkali-kali mengajukan pembicaraan damai dengan Ukraina, namun ditolak. Putin menuduh Zelenskyy enggan melakukan pembicaraan sebab instruksi dari sekutu Baratnya.

“Setelah kompromi tertentu dengan Moskow tercapai, Kiev menerima perintah langsung secara de facto untuk menggagalkan semua kesepakatan. Lebih banyak senjata dikirim ke Ukraina. Rezim Kiev mengerahkan lebih banyak kelompok tentara bayaran internasional dan nasionalis, unit militer yang dilatih dengan standar NATO dan di bawah komando de facto dari penasihat Barat,” jelasnya.

Putin pun memperingatkan konsekuensi Barat yang terus-menerus menekan Rusia. Bagi Putin, negara-negara Barat ingin agar Rusia mengalami kekalahan militer, menjadikannya negara tidak berarti, dan menjarah kekayaan alamnya.

“Sebagian elite Barat menggunakan segala upaya untuk mempertahankan dominasi mereka. Itulah sebabnya mereka mencoba untuk memblokir dan menekan pusat-pusat pembangunan yang berdaulat, sehingga mereka dapat terus secara brutal memaksakan kehendak mereka pada bangsa dan masyarakat lain, untuk memaksakan nilai-nilai semu mereka,” kata Putin.

“Tujuan mereka adalah untuk melemahkan, memecah belah, dan pada akhirnya menghancurkan bangsa kita,” lanjutnya.

Putin juga mengungkap, beberapa pejabat tinggi NATO membenarkan penggunaan senjata nuklir terhadap pasukan Rusia. Akan tetapi, Putin menyatakan jika Barat menyerang Rusia dengan senjata nuklir, maka dia tidak akan ragu untuk membalas dengan nuklir juga.

Dalam siaran itu, Putin juga mengungkap Donetsk, Luhansk, dan dua wilayah di Ukraina akan mengadakan referendum Jumat nanti untuk bergabung dengan Rusia.

Putin sendiri mengatakan dia akan menghormati hasil referendum, sebab tujuan operasi militer adalah untuk melindungi warga etnis Rusia yang selama ini ditindas oleh Ukraina.