Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, premi asuransi properti mendominasi kinerja premi industri asuransi.

Di mana, pertumbuhannya mencapai 36,4 persen, atau Rp14,96 triliun pada triwulan II-2022.

“Secara umum, bisnis properti juga ditunjang oleh beberapa proyek yang sudah selesai dan jika sudah selesai otomatis berpindah ke industri asuransi,” kata Ketua Departemen Statistik AAUI, Esti Handayani dalam konferensi pers daring, Rabu (21/9/2022).

Esti menuturkan, seiring COVID-19 yang melandai dan bisnis yang mulai tumbuh, maka sektor properti juga naik yang turut mendorong tumbuhnya asuransi.

“Apalagi permintaan properti komersial di pasar juga bertumbuh sehingga mendorong properti sendiri dan juga asuransinya,”

Merujuk data Bank Indonesia (BI), lanjutnya, permintaan properti komersial pada periode kuartal 2 2022 tumbuh 1,58 persen (yoy), dengan permintaan tertinggi pada segmen lahan industri dan warehouse complex.

Selain itu, kredit-kredit yang berkaitan dengan properti seperti KPR, kredit real estate, hingga kredit konstruksi yang juga naik pada periode yang sama turut menjadi faktor penunjang pertumbuhan premi asuransi properti. Tercatat kredit KPR naik 6,5 persen, kredit real estate naik 8,1 persen dan kredit konstruksi naik 1,7 persen.

Kemudian dari sisi klaim dibayar asuransi umum, lini properti mencapai Rp3,99 triliun atau naik 42 persen dari periode yang sama tahun lalu sebanyak Rp2,81 triliun.

Selain lini usaha properti, pertumbuhan premi dicatat juga disumbang oleh satelit dengan pertumbuhan 1928,1 persen dari Rp22 miliar pada triwulan 2 2021 menjadi Rp446 miliar pada triwulan 2 2022.

“Untuk motor mengalami pertumbuhan 18,3 persen. Naik dari Rp7,4 triliun menjadi Rp8,76 triliun atau besaran kenaikannya Rp1,35 triliun,” tuturnya.

Kenaikan premi juga ditorehkan oleh lini usaha marine cargo yang tumbuh 17,4 persen menjadi Rp2,1 triliun. Lalu energy on shore tumbuh menjadi Rp147 miliar atau tumbuh 58,7 persen, serta health insurance yang tumbuh 28,1 persen dengan besaran premi Rp3,4 triliun.

Kemudian, pada sisi klaim dibayar turut ditopang oleh energy offshore sebesar 138,1 persen mencapai Rp750 miliar dan diikuti klaim pada bisnis kendaraan bermotor mengalami perbaikan yang ditunjukkan dengan persentase penurunan menjadi 33,5 persen dari 38,9 persen yang juga diikuti juga oleh bisnis marine cargo yang turun sebesar 23,7 persen dari 26,9 persen.

Sedangkan untuk asuransi kredit dari 42,2 persen rasio klaim dibayarnya melonjak menjadi 73 persen, asuransi kesehatan naik dari 54,3 persen menjadi 70,1 persen dan asuransi penjaminan dari 25,8 persen menjadi 35,3 persen.