Mantan Imam Masjidil Haram, Sheikh Saleh Al-Thalib, divonis penjara 10 tahun setelah isi khutbahnya yang mengundang kontroversi. Apa isi ceramahnya?

Organisasi Pemerhati HAM, Prisoners of Conscience, mengatakan Sheikh Saleh Al-Thalib ditangkap setelah ia menyampaikan khotbah tentang kewajiban dalam Islam untuk lantang menentang segala bentuk kejahatan di depan umum.

Sheikh Saleh Al-Thalib sejak dahulu dikenal sering mengkritik aturan pemerintah yang dianggapnya lebih moderat.

Laporan Al-Jazeera pada 2018 itu mengatakan Sheikh Saleh Al-Thalib menyesalkan pembauran laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dalam acara konser dan acara lainnya.

Secara khusus, ia menyinggung budaya Barat yang mulai dibawa ke negara Saudi. Sheikh Saleh Al-Thalib juga mengajak kaum muslim di Saudi menegakkan syariat Islam dengan melarang setiap kemungkaran.

Ia juga meminta kemungkaran yang membahayakan akhlak generasi kaum muslim segera dibasmi dan pelakunya dihukum sesuai syariat Islam.

Sheikh Saleh Al-Thalib resmi dijatuhi pidana setelah penangkapannya pada Agustus 2018 silam. Otoritas Saudi menangkap Sheikh Saleh Al-Thalib ketika masih menjabat sebagai imam di Masjidil Haram.

Setelah 3 tahun ditangkap, Pengadilan Saudi Arabia memvonis Sheikh Saleh Al-Thalib dalam hukuman 10 tahun penjara.

Sejak 2017, penangkapan oleh otoritas Saudi umum sudah dilakukan. Dikutip dari Middle East Monitor, otoritas Saudi kerap menangkap puluhan ulama.

Beberapa penahanan dilakukan lantaran ulama-ulama tersebut secara terbuka menyerukan Saudi rujuk dengan Qatar ketika keduanya bertikai. Meski kini konflik telah mereda, para ulama yang ditangkap tetap dipenjara.

Tak hanya konflik antar Saudi dan Qatar, otoritas Saudi juga kerap melakukan penangkapan pada aktivis dan akademisi yang mengkritik kebijakan pemerintah.

Seorang ulama dan akademik terkenal, Yousef Al-Ahmad juga divonis penjara 4 tahun pada 2020 silam. Ia divonis lantaran mengunjungi pameran buku dan para tahanan di penjara.

Middle East Eye mengatakan Ahmad sebelumnya pernah ditahan akibat mengkritik pemerintah Saudi pada 2012. Ia mempermasalahkan kebijakan Arab Saudi yang membolehkan pelaku kejahatan yang merupakan aparat keamanan tidak diberikan pidana.

Ahmad juga menolak kebijakan Saudi Arabia yang mulai kebarat-baratan. Namun, ia mendapat keringanan oleh Raja Abdullah bin Abdulaziz pada November 2012.