Padahal, Presiden Jokowi mengakui ekonomi bakal makin sulit di tahun depan. Harga barang sudah naik tinggi, diperberat dengan pajak tinggi.

Dalam nota keuangan serta RAPBN 2023, Presiden Jokowi menyampaikan adanya target pendapatan negara pada 2023 sebesar Rp2.443,6 triliun. Terdiri dari penerimaan pajak Rp2.016,9 triliun ditambah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp426,3 triliun.

"Mobilisasi pendapatan negara dilakukan dalam bentuk optimalisasi penerimaan pajak maupun reformasi pengelolaan PNBP," kata Jokowi di depan anggota DPR dan DPD, Jakarta, dikutip Rabu (17/8/2022).

Jokowi menjelaskan, untuk memperkuat kemandirian dalam pendanaanpembangunan, pemerintah akan meneruskan reformasi perpajakan. Reformasi perpajakan dilakukan melalui perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan, serta perbaikan tata kelola dan administrasi perpajakan dalam rangka meningkatkan rasio perpajakan.

"Pemberian berbagai insentif perpajakan yang tepat dan terukur diharapkan mampu mendorong percepatan pemulihan dan peningkatan daya saing investasi nasional, serta memacu transformasi ekonomi," ungkapnya.

Namun, yang jelas, tahun depan, beban pajak yang harus ditanggung rakyat semakin berat. Seiring diberlakukannya Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). Apalagi perekonomian tahun depan diprediksikan lebih buruk ketimbang tahun ini.

Anehnya, Presiden Jokowi dalam pidatonya mengakui akan hal itu. Bahwa perekonomian tahun depan bisa lebih buruk.  Dia wanti-wanti agar Indonesia mewaspadai berbagai risiko akibat perlambatan ekonomi global. "Ke depan, kita harus terus waspada. Risiko gejolak ekonomi global masih tinggi," ujar Jokowi.

Selanjutnya, mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini, menyebut International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan ekonomi dunia semakin turun. "Prediksi pertumbuhan ekonomi global dari 6,1% di tahun 2021 menjadi 3,2% di tahun 2022, dan 2,9% di tahun 2023," ujar Jokowi.

Selain itu, dirinya menyabut 107 negara terdampak krisis. Bahkan, sebagian di antaranya diperkirakan sudah bangkrut. Diperkirakan 553 juta jiwa terancam kemiskinan ekstrem, dan 345 juta jiwa terancam kekurangan pangan dan kelaparan.

Tentu saja, memburuknya perekonomian dunia berdampak kepada Indonesia. Dalam artinya, perekonomian Indonesia syukur-syukur masih bisa positif. Celakanya ya itu tadi, ketika ekonomi sulit, rakyat malah dikejar-kejar pajak.