Jelang Pemilu 2024, partai politik seperti Golkar, PPP, dan PAN sudah tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Sementara Gerindra dan PKB juga sudah menandatangani piagam deklarasi kerja sama.

Sejauh ini, PDIP, Nasdem, PKS, dan Demokrat merupakan parpol yang tidak ataupun belum mendeklarasikan koalisi.

Namun, sejauh belum ada calon presiden (capres) yang terdaftar, koalisi masih bisa berubah atau belum solid. Penilaian itu dikemukakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah.

Menurutnya, masih terbuka kemungkinan besar berubah selama calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) belum ditentukan.

"Sepanjang belum ada tokoh yang terdaftar di KPU sebagai peserta Pilpres 2024, maka sepanjang itu juga dinamika koalisi masih belum stabil," kata Dedi kepada wartawan dikutip Selasa (16/08).

Dedi melihat di antara kedua koalisi yang telah terbentuk, KIB paling berisiko mengalami perpecahan. Hal itu didasarkan pada belum adanya tokoh potensial dari internal.

"KIB menjadi koalisi yang paling rentan terpecah, hal ini kaitannya dengan belum adanya tokoh potensial terusung, berbeda dengan PDIP yang telah menyiapkan Puan Maharani, atau Gerindra dengan Prabowo," ungkapnya.

Dedi menambahkan, konstelasi Pemilu 2024 masih belum dipastikan hingga partai atau koalisi mendeklarasikan calon untuk berlaga di Pilpres 2024.

"Untuk itu, 2024 konstelasinya belum pasti, setidaknya sampai 2023 saat partai mendeklarasikan tokoh-tokoh potensialnya," terangnya.

Menurut Dedi, dinamika itu juga bisa dilihat dari beberapa partai yang belum mendeklarasikan calon, seperti PDIP yang punya tiket 20% presidential threshold, dan juga Gerindra.

"Saat ini sekalipun, termasuk PDIP dan Gerindra, sama-sama belum deklarasikan tokoh capres," pungkas Dedi.