Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengatakan, pihaknya saat ini tengah mengadakan forum terbuka untuk mengganti nama penyakit monkeypox. 

Langkah tersebut dilakukan karena beberapa kritikus menyuarakan kekhawatiran nama itu bisa menghina atau memiliki konotasi rasis.

"Keputusan itu dibuat setelah pertemuan para ilmuwan pekan ini dan sejalan dengan praktik terbaik saat ini untuk penamaan penyakit, yang bertujuan untuk menghindari menyebabkan pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional, atau etnis," kata WHO dikutip dari NBC News pada Senin (15/08/2022).

Selain itu, lanjut WHO, hal ini juga meminimalkan dampak negatif pada perdagangan, perjalanan, pariwisata atau kesejahteraan hewan.

Dilanjutkan, banyak penyakit lain, termasuk ensefalitis Jepang, virus marburg, influenza Spanyol dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah diberi nama berdasarkan wilayah geografis tempat penyakit itu pertama kali muncul atau diidentifikasi. Akan tetapi, WHO belum secara terbuka menyarankan untuk mengubah nama-nama itu," lanjut pernyataan itu.

Diketahui, Badan Kesehatan PBB mengatakan mereka juga telah mengganti nama dua keluarga, atau clades, dari virus, menggunakan angka Romawi alih-alih wilayah geografis, untuk menghindari stigmatisasi. 

Versi penyakit yang sebelumnya dikenal sebagai Cekungan Kongo sekarang akan dikenal sebagai Clade satu atau I dan clade Afrika Barat akan dikenal sebagai Clade dua atau II.