Ketua Dewan Perwakilan Rakyat DPR Amerika Serikat (AS) atau Speaker of the United States House of Representatives, Nancy Pelosi mengatakan, Washington tidak boleh membiarkan China terus menekan Taiwan. 

Hal ini disampaikannya setelah kunjungannya ke Taipei yang dibalas dengan latihan militer besar-besaran oleh Beijing.

Mengutip Reuters, Nancy Pelosi mengatakan, tidak ada alasan bagi Beijing untuk menghambat kunjungannya ke Taiwan. Ia juga menegaskan bahwa China akan menerapkan kenormalan baru terhadap pulau itu yakni dengan latihan militer besar yang rutin.

"Apa yang kami lihat dengan China adalah bahwa mereka mencoba membangun semacam normal baru. Dan kami tidak bisa membiarkan itu terjadi," ujarnya dikutip Reuters, Kamis (11/08/2022).

"Kami pergi ke sana untuk memuji Taiwan. Kami pergi ke sana untuk menunjukkan persahabatan kami, untuk mengatakan China tidak bisa mengisolasi Taiwan."

Selain itu, Pelosi juga menanggapi manuver China untuk memasukkannya dalam daftar sanksi Beijing. Ia mengaku tidak ambil pusing dan terlalu mempermasalahkan langkah China itu.

"Siapa yang peduli? Itu insidental bagi saya, tidak ada relevansinya sama sekali," tambahnya.

Sebelumnya Pelosi sendiri telah diperingatkan oleh Departemen Pertahanan AS agar tidak pergi ke Taiwan. Departemen yang juga dikenal sebagai Pentagon itu menyebut reaksi China dengan adanya kunjungan itu tidak akan baik.

Meski demikian, Pelosi memutuskan untuk tetap mengunjungi Taiwan. China pun berang dan meluncurkan latihan militer besar-besaran di enam titik sekitar Taiwan dan menurunkan rudal canggih hingga Kapal Induk dan Kapal Selam Nuklir. 

Beijing juga berencana bahwa latihan di sekitar Taiwan akan diadakan secara rutin.

China sendiri hingga hari ini masih menganggap bahwa Taiwan adalah bagian dari kedaulatannya. Presiden China Xi Jinping bahkan telah berjanji untuk menyatukan pulau itu dengan wilayah lainnya.

Namun hal ini dibantah oleh rezim Partai Demokratik Progresif yang memimpin Taiwan hari ini. Partai yang merupakan tempat Presiden Tsai Ing-wen itu merasa bahwa Taiwan bukanlah milik China.