Sebagai salah satu negara ekonomi terbesar di dunia, China tampaknya cukup sering melakukan pencetakan uang (printing money) dengan jumlah yang besar. Menurut laporan The Economic Times, pertumbuhan ekonomi China sangat bergantung pada investasi sehingga membutuhkan suntikan modal yang besar, .

China sendiri lebih banyak menjual (ekspor) daripada membeli (impor). Ekspor Beijing diketahui menerima pembayaran dalam dolar AS, tetapi menggunakan mata uang lokal untuk biaya operasional dan upah para pekerjanya.

Inilah yang kemudian membuat nilai tukar yuan bisa naik terhadap dolar AS. Untuk mengatasi hal tersebut, bank sentral People's Bank of China (PBOC) mengambil langkah untuk menjaga nilai tukar mata uang tetap stabil.

Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan jumlah uang beredar, di mana secara harfiah negara ini mencetak lebih banyak mata uang renminbi atau yuan, sebagai unit yang lebih dikenal dalam bahasa sehari-hari.

Dengan kebijakan tersebut, pemerintah China dengan jelas telah mencetak uang lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi dalam beberapa puluh tahun terakhir. Ini dilakukan menjaga nilai tukar mata uang tetap stabil.

Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan jumlah uang beredar, di mana secara harfiah negara ini mencetak lebih banyak mata uang renminbi atau yuan, sebagai unit yang lebih dikenal dalam bahasa sehari-hari.

Dengan kebijakan tersebut, pemerintah China dengan jelas telah mencetak uang lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi dalam beberapa puluh tahun terakhir. Ini dilakukan menjaga nilai tukar mata uang tetap stabil.