Salah satunya mendorong subtitusi impor sebanyak 35 persen. "Farmasi dan produk hilirnya kita ketahui bersama di hulunya petrokimia ada 38 miliar dolar AS yang sedang kita kejar untuk mengisi hulu farmasi tersebut," ujar Plt Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kemenperin, Ignatius Warsito di PT Golden Dacron, Banten, Selasa (9/8/2022).

Pemerintah, lanjutnya, juga akan mengakselerasi fasilitas fiskal maupun nonfiskal.

Kementerian Perindustrian, kata dia, sedang mendorong konsep nonfiskal seperti realisasi harga gas sebesar 6 dolar AS per MMBTU. "Ini kita harapkan bisa mempercepat terlonjaknya investasi tang saat ini sekitar Rp 200 triliun," tutur Ignatius.

Kementerian, sambungnya, optimis dengan berbagai kebijakan yang pemerintah lakukan seperti subtitusi impor maupun pengendalian impor bahan baku. 

"Ini menyebabkan kita bisa merealisasikan investasi totally, khususnya di farmasi dan korporasi.
Dirinya melanjutkan, kinerja industri kini mulai membaik dan tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi. Kinerja ekspor dari sektor manufaktur terutama industri tekstil pun meningkat," paparnya.

"Didukung oleh semua stakeholder dalam negeri. Harapan kami kinerja sektor investasi yang sekarang mencapai Rp 200 triliun lebih bisa membuka lapangan kerja di masa sulit seperti ini," jelas Ignatius.

Hanya saja, lanjut dia, kondisi global tengah menghadapi krisis pangan, energi, dab beberapa intensi terhadap perang di beberapa wilayah. 

Meski begitu menurutnya, Indonesia harus bersyukur karena bisa melalui pandemi Covid-19 yang telah terjadi selama dua tahun terakhir.

"Harapannya dengan ini kita bisa akselerasi pertumbuhan ekonomi kita. Kita semakin yakin dan optimis dari pemerintah, pelaku industri, dan berbagai komunitas, dapat memberikan sumbangsih tumbuhkan perekonomian dalam negeri," tutup Ignatius.