Padahal harga keekonomiannya sudah Rp10 ribu per liter.

Untuk menjaga harga Pertalite tak naik, pemerintah mengalokasikan dana subsidi yang angkanya cukup jumbo. Bahkan sudah bengkak hingga Rp520 triliun.

Namun, masih kata Jokowi, pemerintah berkomitmen untuk menjaga harga Pertalite tidak naik. Kalau Pertalite naik dikhawatirkan berdampak kepada kenaikan harga barang. Yang ujung-ujungnya memberatkan rakyat.

"Coba di negara kita bayangkan kalau Pertalite naik dari Rp7.650 naik jadi harga benar adalah Rp17.100, demonya berapa bulan? Naik 10% saja, saya ingat dulu 3 bulan (demonya). Kalau naik 100% lebih demonya berapa bulan?" kata Jokowi dalam acara Silahturahmi Nasional PPAD 2022, Jakarta, dikutip Minggu (7/8/2022).

Sejatinya, pada Mei 2022, Presiden Jokowi sudah pernah mengulas masalah harga Pertalite. Jokowi mengakui bahwa pemerintah terus menahan agar harga BBM Pertalite tidak naik di tengah tingginya harga minyak dunia dan harga komoditas energi lainnya.

“Yang namanya Pertalite ini, kita tahan-tahan betul agar tidak naik dan harganya tetap di angka Rp7.650 (per liter),” kata Presiden Jokowi, Sabtu (21/5/2022).

Presiden Jokowi bahkan membandingkan harga BBM di Indonesia dengan harga di negara-negara lain yang telah meningkat karena tekanan harga komoditas energi di pasar global sebagai dampak eskalasi perang antara Rusia dan Ukraina.

Kenaikan harga BBM di negara lain, ujar Presiden, jauh melebihi harga BBM di Indonesia. Pemerintah dapat mempertahankan harga BBM Pertalite saat ini dengan memberikan subsidi melalui APBN.

“Saya lihat misalnya di Jerman, bensin sudah Rp31 ribu, sudah hampir dua kali lipat, di Singapura Rp32 ribu, di Thailand Rp20.800, (harga) ini kalau saya rupiahkan. Di Amerika Rp18 ribu kurang lebih. Kita masih Rp7.650 (Pertalite),” ujar Presiden Jokowi.