Hal itu terlihat dari andil sektor pertanian mencapai 12,98 persen, atau tumbuh 1,37 persen.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan, sektor pertanian selama tiga tahun terakhir selalu menjadi bantalan ekonomi yang terus tumbuh positif di saat sektor lain mengalami pelambatan.

"Kita ingat bahwa semua negara mengalami turbulensi yang sama. Pandemi merebak ke seluruh dunia, perubahan cuaca atau climate change membuat cuaca berubah. Belum lagi kita menghadapi geopolitik perang Rusia dan Ukraina. Namun pertanian Indonesia selalu hadir dan menjadi bantalan ekonomi," kata Mentan, pada pernyataan tertulisnya, di Jakarta, Sabtu (5/8/2022).

Mentan SYL mengatakan, Indonesia termasuk negara yang dinilai sangat kecil kemungkinan terjadi resesi, karena angkanya hanya 3%.

Menurutnya jauh jika dibandingkan dengan Sri Lanka yang berpeluang resesi hingga 85% dan Selandia Baru sebesar 33%.

"Saya melihat inflasi di sejumlah negara terus mengalami kenaikan. Di Uni Eropa mencapai 9,6%, Amerika 9,1%, Inggris, 8,2%, Korea 6,1%. Tapi di Indonesia, alhamdulillah masih terjaga di angka 4,4%," lanjutnya.

Dia menyebut salah satu faktor adalah konsistensi dalam menyediakan pangan yang cukup. Misalnya, produksi beras nasional pada tahun 2019 mencapai 31,31 juta ton, meningkat di tahun 2020 menjadi 31,36 juta ton dan di tahun 2021 sebesar 31,33 juta ton. Di sisi lain, ekspor pertanian dari tahun ke tahun juga mengalami kenaikan yang diikuti kenaikan NTP maupun NTUP.

Lebih lanjut, sektor pertanian merupakan aspek penting dalam menunjang kehidupan manusia, karena di Indonesia 270 juta jiwa yang membutuhkan makanan setiap harinya, dan Pertanian adalah penjaga dari semua pintunya ekonomi Indonesia.

"Kita terus dorong penguatan sektor pertanian karena pangan tidak boleh berhenti. arahan presiden meminta penguatan produksi pangan nasional, dan itu kita terus lakukan," pungkasnya.