Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy meminta Presiden China, Xi Jinping untuk melakukan pertemuan langsung. Kyiv mendesak Beijing menggunakan pengaruh politik dan ekonominya di Rusia untuk membantu mengakhiri perang.

Dalam wawancaranya dengan South China Morning Post (SCMP) yang dirilis Kamis (04/08/2022), Zelenskyy mengungkapkan telah meminta untuk berbicara dengan Xi Jinping sejak serangan Rusia ke Ukraina.

"Saya ingin berbicara langsung. Saya melakukan satu percakapan dengan (Presiden) Xi Jinping itu setahun yang lalu," katanya.

"Sejak awal agresi skala besar pada 24 Februari, kami telah meminta secara resmi untuk melakukan percakapan, tetapi kami [belum] melakukan percakapan apa pun dengan China meskipun saya yakin itu akan membantu."

Adapun China, sekutu paling penting Rusia, belum mengutuk tindakan Presiden Rusia Vladimir Putin yang diklaim sebagai 'operasi militer khusus' di Ukraina, yang katanya bertujuan untuk 'denazifikasi' dan demiliterisasi negara tersebut.

Dalam perang yang telah berlangsung hampir 6 bulan tersebut, sedikitnya 5.327 warga sipil di Ukraina tewas dan memaksa sekitar 12 juta orang meninggalkan rumah mereka. 

Pertempuran juga sempat mencegah gandum dan biji-bijian meninggalkan negara itu, yang dikenal sebagai 'keranjang roti dunia' sehingga memperburuk kekurangan pangan dan mendorong kenaikan harga di seluruh dunia.

Xi Jinping sebelumnya telah menyatakan keprihatinannya atas konflik di Ukraina selama pertemuan puncak pada bulan Juni, dengan mengatakan bahwa itu "membunyikan alarm bagi kemanusiaan". Namun, dia tidak memberikan indikasi bagaimana mengakhiri pertempuran.

Awal bulan ini, dia juga berbicara dengan Putin, seorang pemimpin yang sebelumnya dia sebut sebagai sahabatnya, dan menegaskan kembali dukungan China untuk 'kedaulatan dan keamanan' Rusia.

Dia mengatakan semua pihak harus mendorong penyelesaian krisis Ukraina dengan cara yang bertanggung jawab dan bahwa China akan terus memainkan perannya untuk tujuan ini.