Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan marah saat mendengar ada yang menyamakan kondisi perekonomian Sri Lanka dengan Indonesia.

Dia menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia kuat dan tidak bisa disamakan dengan kondisi Sri Lanka yang saat ini dalam status bangkrut.

"Kalau kita disamakan dengan Sri Lanka, itu orang gila atau bagaimana? Jangan membohongi rakyat dan membuat rakyat pesimis. Langit bumilah kita dengan Sri Lanka," cetus Luhut dalam acara Perkenalan dan Silaturahmi Kadin Indonesia Komite Tiongkok, di Hotel Langham, Jakarta, Sabtu (24/07/2022).

Luhut kemudian menyajikan data terkait bagaimana perbandingan kondisi ekonomi Indonesia dengan Sri Lanka.

Pertama, soal nilai tukar mata uang terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Per 20 Juli 2022, dalam data itu, Luhut memperlihatkan mata uang rupiah hanya melemah 5,2% semenjak Januari 2022. Sedangkan mata uang Sri Lanka melemah 98,7%.

Kedua, adalah kinerja pasar saham per 20 Juli 2022. Pasar saham Indonesia menguat 4,5% sejak Januari 2022. Sedangkan pasar saham Sri Lanka turun 36,7%.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022. Ekonomi Indonesia pada periode itu tumbuh 5%, sedangkan Sri Lanka minus 1,6%.

Keempat, adalah inflasi hingga 1 Juni 2022. Inflasi Indonesia 4,4% sementara Sri Lanka 45,3%. Lalu keempat tingkat suku bunga acuan Indonesia adalah 3,5% sementara Sri Lanka 13,5%.

Lalu neraca perdagangan Indonesia per 1 Juni 2022 adalah US$ 5,09 miliar sementara Sri Lanka minus US$ 404 juta.

Luhut mengatakan, proses pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 berjalan dengan baik. 

"Pertumbuhan ekonomi kita masih salah satu yang terbaik di dunia. Ekspor kita juga terbaik di dunia. Banyak orang tidak paham kalau kita itu bagus," katanya.

Dia mengatakan, melalui upaya transformasi ekonomi yang konsisten, ekonomi Indonesia dapat selangkah lagi menuju menjadi negara maju. Dalam satu dekade ke depan, PDB Indonesia dapat meningkat hingga US$ 3 triliun dengan pendapatan per kapita di kisaran US$ 10.000.

Kemudian ketahanan ekonomi Indonesia saat ini didorong oleh proses transformasi ekonomi yang tidak lagi mengandalkan komoditas mentah, namun lewat pengembangan hilirisasi industri. 

Akan tetapi, hilirisasi industri harus memperhatikan aspek lingkungan. Melalui hilirisasi industri, pembangunan menjadi lebih merata dan mendorong industrialisasi di wilayah timur Indonesia.