Konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina membawa keberkahan tersendiri bagi Indonesia. Di tengah lonjakan harga komoditas, Indonesia justru bak ketiban durian runtuh.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani Indrawati di hadapan dua wanita paling berpengaruh di dunia yakni Menkeu Amerika Serikat (AS), Janet Yellen dan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva dalam seminar bertajuk Macroeconomic Policy Mix For Stability and Economic Recovery di Bali, Jumat (14/07/2022).

"Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, kami menikmati windfall profit (durian runtuh) dari commodity boom," jelas Sri Mulyani.

Disrupsi dari sisi supply karena adanya perang membuat pemerintah harus mengambil kebijakan counter cyclical.

"Permintaan justru terdorong oleh kebijakan counter cyclical ini. Kebijakan ekonomi makro menjadi game changer," ujar Sri Mulyani lagi.

Counter cyclical artinya mengambil pendekatan sebaliknya, yaitu mengurangi pengeluaran dan menaikkan pajak selama ekonomi sedang booming, serta meningkatkan pengeluaran dan memangkas pemungutan pajak ketika sedang dalam masa resesi.

Dua tahun lalu, kata Sri Mulyani pemerintah mencoba menyelamatkan ekonomi dari keruntuhan pasokan dan permintaan karena pandemi. Di saat penawaran belum pulih, sementara permintaan sudah bergerak ke arah yang jauh lebih cepat.

"Saya pikir inilah yang kami coba lakukan dan juga banyak negara lain. Jawabannya, tidak hanya selalu memadai pada instrumen kebijakan ekonomi makro, karena masalah struktural dan itu lah sebabnya Indonesia bahkan di masa pandemi, fokus pada reformasi struktural," jelas Sri Mulyani.

Hal yang sama juga, kata Sri Mulyani disaat menangani isu kerawanan pangan dan energi.

"Kami terus meningkatkan produksi pangan, serta produksi dan keragaman energi, sehingga kami akan memiliki ketahanan yang lebih di bidang ini," kata Sri Mulyani.