Gereja unifikasi Jepang terseret dalam kasus kematian mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, menyusul pengakuan Tetsuya Yamagami yang mengaku membunuh Abe karena meyakininya terlibat dalam organisasi itu.

Media-media lokal di Jepang melaporkan, Yamagami sakit hati ke gereja tersebut karena ibunya merupakan salah satu anggota gereja tersebut dan diketahui kerap memberi sumbangan besar ke gereja sampai akhirnya bangkrut.

Presiden Gereja Unifikasi di Jepang, Tomihiro Tanaka kepada wartawan membenarkan bahwa ibu dari Tetsuya Yamagam adalah anggota Gereja Unifikasi. Namun Tanaka tidak memberikan namanya. "Ibu dari tersangka Yamagami adalah anggota gereja kami dan dia menghadiri acara kami sebulan sekali," katanya.

Tanaka menambahkan, sumbangan apa pun yang diberikan ibu Tetsuya Yamagami sedang diselidiki oleh polisi dan dia tidak bisa berkomentar lebih lanjut, hanya berjanji untuk bekerja sama dengan penyelidik.

"Ada orang-orang yang menyumbangkan uang dalam jumlah besar. Kami berterima kasih kepada mereka karena tidak akan memberikan sumbangan seperti itu tanpa keikhlasan," ucapnya.

Sebelumnya, Tanaka mengungkap ibu Yamagami pertama kali bergabung dengan gereja sekitar 1998 tetapi berhenti menghadiri pertemuan antara tahun 2009 dan 2017.

Sekitar dua sampai tiga tahun yang lalu, dia membangun kembali komunikasi dengan anggota gereja dan dalam setengah tahun terakhir ini telah menghadiri acara gereja sekitar sebulan sekali.

Diketahui, Tetsuya Yamagami, 41 tahun, mengaku menembak korban karena dendam gara-gara ibunya bangkrut setelah menyumbang sebuah kelompok keagamaan yang dipromosikan Abe.

Polisi telah mengkonfirmasi bahwa tersangka mengatakan dia menyimpan dendam terhadap organisasi tertentu, tetapi belum menyebutkan namanya. Namun baik Abe maupun Yamagami bukanlah anggota gereja.

Abe juga bukan penasihat gereja. Abe muncul di sebuah acara yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi afiliasi gereja pada September tahun lalu.

Ketika itu, menurut situs web gereja, ia menyampaikan pidato yang memuji kerja gereja menuju perdamaian di Semenanjung Korea.

Gereja Unifikasi didirikan di Korea Selatan pada 1954 oleh Sun Myung Moon, yang menyatakan diri sebagai mesias dan anti-komunis.

Kelompok tersebut mendapatkan perhatian media global untuk pernikahan massalnya, dengan ribuan pasangan menikah sekaligus.

Moon, yang fasih berbahasa Jepang, meluncurkan kampanye politik anti-komunis di Jepang sejak akhir 1960-an dan membangun hubungan dengan politisi Jepang, menurut publikasi gereja.

Moon meninggal pada 2012. Menurut Tanaka, Gereja Unifikasi memiliki sekitar 600.000 anggota di Jepang dari 10 juta secara global.