Mutasi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 varian Omicron Super ditemukan di India yang membuat khawatir dunia. Mutan tersebut telah timbul secara signifikan di India dan telah menyebar hingga Amerika Serikat (AS), seperti dikutip dari Arab News.

Para ilmuwan mengatakan, varian yang dikenal sebagai BA.2.75 mungkin mampu menyebar dengan cepat dan menghindari kekebalan dari vaksin dan infeksi sebelumnya.

"Masih terlalu dini bagi kami untuk menarik terlalu banyak kesimpulan. Tapi sepertinya, terutama di India, tingkat penularannya menunjukkan peningkatan eksponensial," ujar direktur virologi klinis di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, Matthew Binnicker dikutip Senin, (11/07/2022).

Mengenai kekuatan penularan, masih belum dapat dipastikan apakah BA.2.75 ini lebih menular dari varian BA.5 atau tidak. BA.5 sendiri saat ini telah menjadi biang dari kenaikan kasus COVID-19 di beberapa negara.

"Kekhawatiran para ahli yang memicu adalah sejumlah besar mutasi yang memisahkan varian baru ini dari pendahulunya omicron. Beberapa dari mutasi tersebut berada di area yang berhubungan dengan protein lonjakan dan memungkinkan virus untuk mengikat sel secara lebih efisien," tambah Binnicker.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa sejauh ini vaksin dan booster masih merupakan pertahanan terbaik melawan gejala penularan COVID-19 yang parah.

"Beberapa orang mungkin berkata, 'Yah, vaksinasi dan booster tidak mencegah orang terinfeksi'. Dan, ya, itu benar," tambahnya.

"Tetapi apa yang telah kita lihat adalah bahwa tingkat orang yang berakhir di rumah sakit dan meninggal telah menurun secara signifikan. Karena semakin banyak orang yang telah divaksinasi, dikuatkan, atau terinfeksi secara alami, kami mulai melihat tingkat latar belakang kekebalan di seluruh dunia meningkat," jelasnya lagi.

Sementara itu, pimpinan perusahaan sequencing virus Helix, Shishi Luo, mengatakan ini merupakan bukti bahwa COVID-19 masih terus bermutasi meski angka vaksinasi dan booster terus menerus meningkat.

"Kita ingin kembali ke kehidupan pra-pandemi, tetapi kita tetap harus berhati-hati. Kita harus menerima bahwa kita sekarang hidup dengan tingkat risiko yang lebih tinggi daripada dulu," terangnya.

Mengutip Worldometers, saat ini total ada 560 juta kasus COVID-19 terkonfirmasi dengan 6,3 juta kematian. Namun ada 533 juta warga dunia yang sembuh.