Ancaman krisis energi di Jerman semakin nyata. Bahkan sejak 23 Juni 2022 lalu, pemerintah telah menaikkan status energi dari darurat ke level 'waspada'. Ini akibat pengurangan pasokan gas Rusia, di mana Kremlin memangkas gas yang dialirkan melalui pipa Nord Stream 1 hingga 60%.

Seperti diketahui, Jerman sangat bergantung pada impor energi dari Rusia. Perusahaan energi multinasional asal Rusia, Gazprom dan Rosneft, adalah pemain kunci dalam industri energi di Eropa.

Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck menyebut rendahnya pasokan energi dari Rusia dapat menyebabnya kelumpuhan industri. Ini juga membuat lonjakan angka kemiskinan menjelang musim dingin di negaranya.

"Perusahaan harus menghentikan produksi, memberhentikan pekerja mereka, rantai pasokan akan runtuh," kata Habeck kepada majalah Der Spiegel akhir pekan lalu, dikutip melalui Reuters, Jumat (01/07/2022).

"Orang akan berutang untuk membayar tagihan pemanas mereka, orang akan menjadi lebih miskin. Ini adalah tempat berkembang biak terbaik bagi populisme, yang dimaksudkan untuk melemahkan demokrasi liberal kita dari dalam," tambahnya.

Habeck mengatakan akan ada bantuan lebih lanjut bagi perusahaan dan masyarakat yang terkena dampak kekurangan gas. Tetapi ia memperingatkan tidak mungkin untuk membantu semua pihak yang terdampak.

Meskipun Jerman dan negara-negara anggota Uni Eropa lainnya telah memberlakukan embargo minyak Rusia sebagai tanggapan atas invasi ke Ukraina, Berlin menghindari penerapan larangan impor gas Moskow. Negeri ini masih 'meminum' gas Rusia.

Jika Rusia menghentikan total aliran gas, asosiasi industri vbw Bavaria menyatakan pertumbuhan ekonomi Jerman bisa merugi hingga 12,7% pada paruh kedua 2022. Berlin bisa merugi hingga total US$203 miliar atau setara Rp3.007 triliun.

Data yang dirilis pada Kamis, menunjukkan bahwa Jerman masih mengimpor meski 22% lebih sedikit dalam empat bulan pertama tahun ini. Jerman pun rela membayar biayanya yang melonjak 170% dibandingkan periode yang sama.

Pengurangan pasokan gas dari Rusia ke Jerman disebut Moskow terkait masalah teknis. Gazprom menyalahkan keterlambatan pengembalian peralatan yang diservis yang disebabkan oleh sanksi Barat. Namun Jerman melihatnya lain. Gas dijadikan "senjata" oleh Rusia sebagai pembalasan sanksi.