Pemerintah India melakukan penguncian atau lockdown satu kota. Bukan karena pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang kembali merebak, melainkan karena kasus penghinaan Nabi Muhammad Salallaahualaihi Wassalam yang dilakukan Juru Bicara Partai Bharatiya Janata (BJP), partai pemerintah yang membawa Narendra Modi kepada tampuk kekuasaan India.

Ratusan polisi dikerahkan di kota barat Udaipur, negara bagian Rajasthan. Pembunuhan terhadap seorang penjahit Hindu bernama Kanhaiya Lal, karena dukungannya di media sosial pada pejabat partai penguasa Bharatiya Janata (BJP) yang menghina Nabi Muhammad dan istrinya Aisyah oleh dua orang Muslim, menjadi penyebab lockdown tersebut dilakukan.

Serangan membuat geger karena direkam dalam sebuah video dan viral di media sosial. Video itu mengambarkan bagaimana pelaku mencoba memenggal kepala korban. Kedua pelaku disebut mengacungkan pisau besar ke Lal. Mereka juga mengancam membunuh Perdana Menteri Narendra Modi.

Dilaporkan AFP, ratusan orang berkumpul di luar rumah Lal menjelang pemakamannya pada hari Rabu (29/06/2022). Sehari sebelumnya, ratusan orang juga memprotes dan meneriakkan slogan-slogan Hindu sebagai tanggapan atas pembunuhan itu.

Orang-orang yang mengendarai sepeda motor dan mobil mengibarkan bendera safron, warna agama Hindu, dan meneriakkan slogan-slogan. Mereka menuntut hukuman mati bagi terdakwa.

"Gantung mereka, gantung mereka. Suamiku sudah pergi," kata istri Lal.

"Jika hukum tidak mau melakukan apa-apa, berikan kepada kami sehingga kami dapat membunuh mereka," tegas krabatnya yang lain.

Badan Investigasi Nasional (NIA) pusat mengatakan bahwa video viral tersebut memang memicu kepanikan dan teror di antara massa di seluruh negeri. Untuk mencegah potensi kekerasan sektarian, pihak berwenang mengerahkan 600 polisi tambahan dan menempatkan kota berpenduduk sekitar 450.000 orang itu di bawah jam malam.

Pemerintah juga memutus akses internet seluler di sana dan di bagian lain negara bagian Rajasthan. Ketua Menteri Rajasthan Ashok Gehlot mengimbau orang-orang untuk tidak membagikan video itu karena akan 'melayani motif penyerang untuk menciptakan perselisihan di masyarakat'.

"Keterlibatan organisasi dan hubungan internasional mana pun akan diselidiki secara menyeluruh," tambah Menteri Dalam Negeri India, Amit Shah.

Di media sosial, anggota partai dan pendukung BJP yang berkuasa menggambarkan pembunuhan itu sebagai serangan terhadap semua umat Hindu. Mereka mencuti tagar seperti #IslamicTerrorismInIndia.

Organisasi Muslim India mengutuk pembunuhan itu. Tetapi kelompok Hindu sayap kanan Vishwa Hindu Parishad, Surendra Kumar Jain mengatakan bahwa banyak pemimpin Muslim telah "menghina kepercayaan Hindu".

"Anda harus takut pada hari ketika umat Hindu juga mulai membalas penghinaan dengan koin yang sama," kata Jain dalam pesan video.

India telah menjadi negara dengan potret kekerasan sektarian sporadis antara mayoritas Hindu dan Muslim. Islam sendiri berkomposisi sebanyak 14% dari 1,4 miliar penduduk. Kerusuhan agama pernah terjadi beberapa kali. Di ibu kota New Delhi 53 orang tewas pada 2020, sementara di kota terdekat, Muzaffarnagar 62 lainnya tewas pada 2013.

Pada tahun 2002 sedikitnya 1.000 orang tewas dalam kekerasan di Gujarat, yang saat itu dipimpin oleh Modi. Sebagian besar korban adalah Muslim. Partai Modi telah dituduh meminggirkan komunitas Muslim. Ia dikatakan telah menabur perpecahan dengan umat Hindu sejak berkuasa pada tahun 2014.