India, khususnya Kota Udaipur, negara bagian Rajasthan, mencekam setelah salah seorang pendukung penghina Nabi Muhammad SAW, kepalanya dipenggal. Korban merupakan seorang penjahit bernama Kanhaiya Lal.

Aksi pemenggalan diduga dilakukan lantaran sang korban mengunggah dukungan terhadap pernyataan politikus partai berkuasa, Bharatiya Janata (BJP), yang menghina Nabi Muhammad SAW pada awal bulan lalu.

Para pelaku mengabadikan aksinya dalam rekaman video. Video mengenaskan penuh darah itu beredar di media sosial hingga viral. Pemerintah Udaipur kemudian memblokir internet di daerah itu dan melarang aktivitas perkumpulan demi mencegah penyebaran lebih jauh hingga bentrokan lebih lanjut.

Menurut media lokal, insiden itu bermula saat korban membagikan unggahan yang terkesan mendukung pernyataan jubir BJP Nupur Sharma sekitar beberapa pekan lalu.

Dalam pernyataannya di televisi nasional, Sharma menghina Nabi Muhammad hingga memicu protes di dalam negeri hingga kecaman dari negara mayoritas Muslim dan negara Barat.

Sepuluh hari usai korban mengunggah dukungannya soal komentar Sharmadi media sosial, kedua pelaku merangsek toko jahitnya dengan menyamar sebagai pelanggan. Tak lama, kedua pelaku menyerang korban dengan pisau besar.

Pihak berwenang kemudian bergegas mengerahkan polisi ke lokasi kejadian. Pihak berwenang juga bergegas mengamankan Udaipurdemi mencegah potensi bentrokan antar umat Muslim dan Hindu pecah lagi.

"Kedua terdakwa kasus pembunuhan itu sudah ditangkap dan kami akan memastikan hukuman yang tegas dan keadilan sesegera mungkin," ujar Kepala Menteri di Rajasthan, Ashok Gehlot, di Twitter pada Selasa (28/06).

Gehlot juga mengimbau orang-orang untuk tetap tenang dan tak membagikan video tersebut. "Sebab, rekaman itu akan mendukung motif penyerang untuk menciptakan perselisihan di masyarakat," imbuh dia seperti dikutip AFP.

Masih dalam laporan yang sama, ratusan orang berkumpul di luar rumah Lal menjelang pemakamannya pada hari Rabu (29/06). Sehari sebelumnya, ratusan orang juga memprotes dan meneriakkan slogan-slogan Hindu sebagai tanggapan atas pembunuhan itu.

Orang-orang yang mengendarai sepeda motor dan mobil mengibarkan bendera safron, warna agama Hindu, dan meneriakkan slogan-slogan. Mereka menuntut hukuman mati bagi terdakwa.

Umat Muslim di India terus berada dalam tekanan dan diskriminasi sejak partai nasionalis BJP yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa.

Beberapa peristiwa anti-Islam besar lainnya pernah terjadi di India sejak era pemerintahan Modi berkuasa.

India telah menjadi negara dengan potret kekerasan sektarian sporadis antara mayoritas Hindu dan Muslim. Islam sendiri berkomposisi sebanyak 14% dari 1,4 miliar penduduk.

Kerusuhan agama pernah terjadi beberapa kali. Di ibu kota New Delhi 53 orang tewas pada 2020, sementara di kota terdekat, Muzaffarnagar 62 lainnya tewas pada 2013.

Pada tahun 2002 sedikitnya 1.000 orang tewas dalam kekerasan di Gujarat, yang saat itu dipimpin oleh Modi. Sebagian besar korban adalah Muslim.

Partai Modi telah dituduh meminggirkan komunitas Muslim. Ia dikatakan telah menabur perpecahan dengan umat Hindu sejak berkuasa pada tahun 2014.