Berdasarkan laporan keuangan, emiten teknologi bersandi BUKA ini, berhasil meeraup laba bersih sebesar Rp14,55 triliun.

Bak langit dan bumi dengan kuartal I-2021, Bukalapak harus menderita kerugian Rp323,25 miliar.

Masih berdasarkan laporan keuangannya, perolehan laba tersebut sebagian besar disumbang laba nilai investasi yang belum dan sudah terealisasi, sebesar Rp15,51 triliun.

Asal tahu saja, sebagaimana dikutip dari siaran pers Bukalapak, peningkatan signifikan pos laba nilai investasi tersebut terutama disebabkan oleh laba nilai investasi dari emiten bank CT Corp PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI).

Dalam catatan laporan keuangan BUKA disebutkan, perusahaan berpartisipasi dalam penambahan modal via rights issue BBHI dengan membeli sebanyak 2,49 miliar saham atau 11,4946% saham baru. 

Dalam investasi ke BBHI tersebut, BUKA merogoh dana hingga Rp1,19 triliun.

Besarnya laba bersih yang diterima BUKA pada Triwulan I-2022 tersebut kontras dengan perolehan pendapatannya yang hanya sebesar Rp787,92 miliar. 

Meski begitu, pendapatan BUKA pada periode tersebut tumbuh 86 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara pendapatan mitra pada triwulan I-2022 meningkat sebesar 227 persen menjadi Rp 472 miliar, atau tumbuh sebesar 47 persen secara year on year (yoy). 

Kontribusi Mitra Bukalapak terhadap pendapatan Perseroan menunjukkan peningkatan sebesar 60% pada triwulan I-2022.

Adapun siaran pers Bukalapak menyatakan, Total Processing Value (TPV) selama triwulan I-2022 tumbuh sebesar 25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp34,1 triliun. TPV merupakan total transaksi yang benar-benar terjadi.

Pertumbuhan TPV BUKA didukung oleh peningkatan jumlah transaksi hingga 34 persen sepanjang triwulan I-2021 sampai dengan triwulan I-2022.

Sebanyak 74 persen TPV BUKA berasal dari luar daerah Tier 1 Indonesia, di mana penetrasi all-commerce dan tren digitalisasi warung serta toko ritel tradisional menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Selain itu, margin kontribusi emiten ini juga menunjukkan peningkatan dari 0,3 persen menjadi 0,1 persen terhadap TPV pada triwulan pertama tahun ini. Informasi saja, margin kontribusi adalah laba kotor yang dikurangi beban penjualan dan pemasaran terhadap TPV.

Margin kontribusi Marketplace BUKA terhadap TPV Marketplace juga meningkat menjadi minus 0,2 persen pada periode yang sama. Sedangkan margin kontribusi Mitra terhadap TPV Mitra juga membaik menjadi minus 0,4 persen pada triwulan I-2022.
BUKA juga membukukan adjusted EBITDA sebesar minus Rp372 miliar di periode ini, yang mana rasio adjusted TPV terhadap EBITDA meningkat menjadi minus 1,1 persen.

EBITDA merupakan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Adapun indikator ini biasanya digunakan untuk mengukur performa keuangan sebuah perusahaan.

Saham Ambruk
Sayangnya, kinerja bottom line (pos laba) positif emiten ini tidak diiringi dengan kinerja saham yang baik.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, performa saham BUKA selama semester I-2022 terperosok hingga minus 38,60 persen per Rabu (29/6/2022).

Hal ini menempatkan saham BUKA ke dalam daftar lima besar top losers sepanjang 6 bulan pertama 2022.

Sejak melantai di bursa pada 6 Agustus tahun lalu di harga penawaran perdana (IPO) Rp850/saham, cenderung bergerak merosot hingga saat ini.

Adapun harga saham BUKA ditutup merosot sebesar minus 2,94 persen menjadi Rp264/saham pada penutupan perdagangan Rabu (29/6).