Presiden Joko Widodo mengusulkan tiga hal yang harus dilakukan untuk mencegah ancaman dekade pembangunan yang hilang saat menyampaikan pidato secara virtual dalam Dialog Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Global.

Forum itu menjadi agenda sampingan KTT BRICS XIV yang berpusat di Beijing, China, dengan serangkaian acara secara virtual, dan Presiden Jokowi dari Istana Merdeka, Jakarta menegaskan bahwa harus ada tindakan segera demi mencegah ancaman dekade pembangunan yang hilang di tengah tantangan ketahanan pangan, energi, dan stabilitas keuangan yang dihadapi seluruh dunia.
 
"Untuk itu ada tiga langkah yang harus kita jalani bersama. Pertama, sinergi untuk mengatasi 'emerging challenges'," kata Jokowi dalam pidato yang disiarkan kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden, Jumat, 25 Juni 2022.

Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia, yang saat ini memegang presidensi G20 dan menjadi bagian Global Crisis Response Group, akan terus berkontribusi untuk mengatasi masalah-masalah ketahanan pangan, energi, dan stabilitas keuangan.

Ia mengaku banyak mencatat banyak inisiatif lain dari berbagai pihak. Jokowi menegaskan bahwa inisiatif-inisiatif tersebut harus saling bersinergi dan memperkuat, memperhitungkan suara negara-negara berkembang, serta mengedepankan dialog.
 
"Kedua memperkuat kemitraan global untuk SDGs dengan fokus pada pendanaan pembangunan," katanya.
 
Mantan Wali Kota Solo itu memaparkan bahwa kesenjangan pendanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs) mengalami peningkatan dari 2,5 triliun dolar AS per tahun sebelum pandemi menjadi 4,2 triliun dolar per tahun pascapandemi.
 
Menurut Jokowi kesenjangan itu harus ditutup dan BRICS sebagai forum negara-negara ekonomi baru yang dihuni Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, bisa memainkan peran sebagai katalis munculnya inovasi pendanaan tersebut.
 
"Pendanaan inovatif harus dimajukan, terutama peranan sektor swasta harus diperkuat. BRICS harus dapat menjadi katalis bagi penguatan investasi di negara-negara berkembang," katanya.

Jokowi menegaskan bahwa Indonesia juga akan memanfaatkan posisi presidensi G20 untuk mendorong investasi yang menciptakan nilai tambah bagi negara berkembang.

Ia juga mendorong agar inisiatif pembangunan global (GDI) turut menjadi karalis pencapaian SDGs. Hal itu antara lain lewat penyelarasan GDI dengan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), di mana elemen pencapaian SDGs menjadi salah satu ruh dan prioritas kerja sama tersebut.
 
"Yang ketiga, sumber-sumber pertumbuhan baru harus diperkuat," kata Jokowi.
 
Menurut Presiden, kerja sama yang dilakukan oleh BRICS bersama negara-negara mitra harus disertai dukungan untuk transformasi digital yang inklusif, pengembangan industri hijau dan infrastruktur hijau, serta memperkuat akses negara-negara berkembang dalam rantai suplai global.
 
Menutup pidatonya, Presiden Jokowi menyampaikan slogan presidensi G20 Indonesia yakni recover together, recover stronger.

Ancaman dekade pembangunan yang hilang di banyak negara disebutkan dalam Laporan Pendanaan Pembangunan Berkelanjutan (FSDR) 2021 yang diterbitkan PBB.

Disebutkan bahwa lantaran pandemi COVID-19 perekonomian global mengalami resesi terburuk dalam 90 tahun, dengan dampak terbesar dirasakan kelompok masyarakat paling rawan.

Laporan tersebut memperkirakan 114 juta pekerjaan hilang dan sekira 120 juta orang kembali terjerembab dalam kemiskinan ekstrem, sehingga dibutuhkan aksi nyata untuk mencegah ancaman dekade pembangunan yang hilang di banyak negara.