Bitcoin, uang kripto yang nilai kapitalnya termahal, bakalan terjun bebas hingga 80% dari level tertinggi. Harganya diprediksi bakal merosot hingga titik dasar yakni US$13.000 per keping. Atau setara Rp192 juta per keping.

Pendiri Absolute Strategy Research Ian Harnett mengatakan, harga bitcoin kemungkinan akan turun terus ke harga terendah tahun ini, yakni US$13.000. Ini artinya, turun 40% dari level saat ini.

Berdasarkan data Coindesk, harga bitcoin US$ 20.373 per keping pada Kamis (23/6/2022). Merujuk pada pergerakan bitcoin sejak awal tahun, harganya cenderung turun sekitar 80% dari tertinggi sepanjang masa. Bitcoin telah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada November 2021, yakni US$ 69.000.

Harnett menilai, penurunan harga bitcoin mirip dengan kejadian pada 2018. Saat itu harga bitcoin anjlok mendekati US$ 3.000 setelah mencapai puncaknya hampir US$ 20.000 pada akhir 2017.

Selain harga bitcoin, harga kripto lainnya seperti ethereum anjlok. Ethereum sempat mencapai harga terendah, yakni US$ 897 pada Sabtu (18/6/2022). Harga ethereum saat ini tertahan di angka US$ 1.000. 

Harga kripto lainnya seperti solana juga sempat turun 8,6% dalam sehari pada akhir pekan lalu. Cardano merosot 9,1% dan XRP turun 6,1%. 

Goyahnya pasar kripto terjadi sebelum kenaikan suku bunga The Fed pekan lalu. Ini karena para pedagang diguncang oleh runtuhnya stablecoin Terra Luna.

Kondisi itu semakin diperparah oleh masalah likuiditas pemain kripto besar seperti Celsius dan Three Arrows Capital.

Perusahaan investasi yang bergerak di bisnis aset kripto juga sedang berjuang bertahan hidup. Coinbase memberhentikan 18% karyawannya bulan ini. Gemini, BlockFi dan Crypto.com melakukan hal yang sama.

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Janet Yellen mengingatkan, bahwa aset kripto merupakan investasi berisiko tinggi dengan begitu sedikit regulasi. Menteri Yellen akan bertemu dengan CEO bank-bank Wall Street minggu depan untuk membahas perlunya inovasi yang bertanggung jawab dalam aset digital.

"Berinvestasi dalam kripto bukan sesuatu yang saya rekomendasikan kepada kebanyakan orang yang menabung untuk masa pensiun mereka," kata Yellen di acara New York Times, minggu ini.

"Bagi saya itu adalah investasi yang sangat berisiko," tegas Yellen.