Ya, lantaran harga pupuk menjukang tinggi. Bahkan, banyak petani sawit yang tak mampu beli. Seperti disampaikan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Kalimantan Barat, Marjitan.

"Masalah pupuk bagi petani memang sudah sulit untuk membeli karena harga tinggi apalagi dengan harga TBS ini. Kalau harga TBS segini di daerah kita sudah tinggi dan kebun kita sudah di atas 25 tahun. Artinya operasional panen tinggi membutuhkan pupuk musti dosisnya harus tinggi," ujar Marjitan, Sabtu (18/6/2022).

Ia mengatakan kalau hanya dikasih 1 kilogram pupuk untuk sarapan pun tidak cukup dengan usia tanaman yang demikian.

"Daya beli masyarakat udah tidak mampu mencukupi kebutuhan harga TBS sekarang Rp 2.220. Ini harga kotor, belum timbang, akomodasinya, angkutan belum kewajiban-kewajiban lain selaku petani yang bermitra dan yang punya lembaga," ungkap Marjitan.

Ia menyebut mulai naiknya harga pupuk Mei 2022. Harga pupuk dari dalam dan luar kata Marjitan berkisar Rp 300 ribu-an, Rp 350.000 hingga Rp450.000. 

Namun sekarang harganya sudah mencapai Rp1.100.000. Kenaikan sejak Mei 2021 terjadi tiap bulan, ditambah lagi kenaikan herbisida contoh roundup.

"Sekarang harga pupuk Rp 1,1 juta, racun rumput roundup ya kalau dulu itu 1 liter itu hanya Rp 85 ribu, sekarang sudah hampir mencapai Rp200.000," ujar Marjitan.

"Kalau yang 20 liter, dulu hanya Rp 800 ribuan atau Rp 950.000 per jerigen. Sekarang harganya Rp 2.300.000 per jerigen. Artinya memang bagi petani sudah sangat berat. Sementara itu dibutuhkan di lapangan setidaknya 4 bulan sekali, kita membutuhkan baik itu pupuk maupun herbisida," ujar Marjitan.

Ia berharap jangan hanya harga minyak yang menjadi sorotan, tapi pupuk yang menjadi kebutuhan petani juga disoroti.

"Harapan kita pemerintah harus turun tangan dan campur tangan dan segera diatasi pupuk yang pertama langka dan kedua sangat mahal. Kenaikan hampir 200 persen, kalau roundup idari Rp 950 ribu per jerigen sekarang Rp 2.3 juta," ungkap Marjitan.