Partai Amanat Nasional (PAN) memastikan tidak akan nyinyir ke pemerintahan, usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Ketua Umum Zulkifli Hasan (Zulhas) sebagai Menteri Perdagangan.

Waketum PAN, Yandri Susanto mengatakan, saat ini partainya menjadi bagian dari koalisi. Kalaupun harus mengkritik, maka dilakukan dengan cara yang sopan.

Pernyataan Yandri tersebut merespons PPP yang mengingatkan PAN untuk tidak bersuara layaknya oposisi usai reshuffle kabinet pada Rabu kemarin.

"Setuju. Saya kira, kalau kritik sampaikanlah dengan santun. Namanya juga teman, PAN juga bagian dari koalisi Pak Jokowi," kata Yandri kepada wartawan, Kamis (16/06).

Ia mengatakan, saat mengkritik pemerintah, PAN akan memperbaiki intonasi penyampaiannya. Dia mengatakan kebijakan pemerintah saat ini bagian dari tanggung jawab PAN.

"Kalau ada yang perlu diperbaiki ya gaya atau intonasinya harus diperbaiki. Bagaimana pun kebijakan yang diambil pemerintah, itu bagian dari tanggung jawab PAN," ujar Yandri.

Meski demikian, Yandri menyebutkan PAN tidak menutup pintu untuk melakukan kritik terhadap pemerintah Jokowi. Dia berharap PAN tetap bisa menjadi solusi yang baik.

"Tapi bukan berarti menutup pintu untuk melakukan kritik, saran, dan pendapat. Tinggal caranya yang kita atur caranya sedemikian rupa, sehingga masukan PAN bisa tetap menjadi solusi yang terbaik," ucapnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Umum PPP Arsul Sani mengatakan masuknya Zulhas di kabinet menguatkan posisi Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), yang digagas Golkar, PPP, dan PAN.

"Saya melihatnya dari PPP sebagai KIB, ya. Reshuffle itu kalau buat kami, partai-partai KIB itu menguatkan posisi KIB. Kenapa, karena sekarang tiga ketua umum KIB, semua ada di dalam kabinet," kata Arsul kepada wartawan, Kamis (16/06).

Arsul melanjutkan, partai-partai koalisi pemerintahan selama ini memiliki komunikasi yang baik dan solid meski dalam beberapa hal tentu ada beda sudut pandang. Arsul menekankan PAN dapat menyesuaikan diri setelah Zulhas masuk ke kabinet.

Arsul menjelaskan penyesuaian diri yang dimaksud adalah tetap kritis tetapi harus bisa menyatu secara keseluruhan. Dia menekankan kritik tetap boleh, tetapi tidak bersuara layaknya oposisi.

"Artinya menyesuaikan diri itu, karena dia ada di dalam koalisi, ya memang tidak berarti tidak boleh kritis, tetap boleh kritis tetapi juga harus kita setel secara keseluruhan. Secara keseluruhan itu tidak bisa misalnya, partainya ada di sini, terus ada satu, dua, tiga politikusnya yang kemudian bersuara seperti oposisi, gitu, lho. Ndak bisa kita," kata Arsul.