Ukraina meminta bantuan kemanusiaan guna memerangi penyakit mematikan. Laporan intelijen Inggris menyatakan kekhawatiran pejabat Ukraina akan merebaknya wabah di tengah upaya menyediakan layanan publik dasar bagi penduduk sipil.

Wabah kolera mengancam penduduk Kota Mariupol di selatan Ukraina yang kini berada di bawah kendali penuh Rusia. Mariupol suram, kota itu telah berubah menjadi puing-puing akibat digempur habis-habisan oleh Rusia.

Sistem sanitasi rusak dan mayat membusuk di jalan-jalan. Rusia telah menutupi informasi ihwal merebaknya wabah kolera di tengah kondisi sanitasi yang memburuk.

"Kota ini benar-benar berubah, dengan mayat di mana-mana. Mayat-mayat ditumpuk, masyarakat sipil tidak bisa mengatasi mengubur mayat-mayat bahkan di kuburan massal. Kapasitas untuk itu tidak cukup," kata Petro Andrushenko, seorang penasihat walikota terpilih Mariupol, kepada televisi nasional.

"Ada wabah disentri dan kolera. Perang telah menelan korban 20.000 penduduk. Dengan wabah infeksi ini, akan merenggut ribuan jiwa lagi di Mariupol," katanya.

Dia meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komite Internasional Palang Merah untuk bekerja membangun koridor kemanusiaan untuk memungkinkan penduduk yang tersisa meninggalkan kota, yang sekarang berada dibawah kendali Rusia.

Dalam gambaran dampak perang yang lebih luas, badan pangan PBB mengatakan pengurangan ekspor gandum dan komoditas makanan lainnya dari Ukraina dan Rusia dapat menimbulkan kelaparan kronis bagi lebih dari 19 juta orang secara global selama tahun depan.