Perdana Menteri Inggris Boris Johnson lolos dari pemecatan setelah menang dalam voting mosi tidak percaya partygate di parlemen pada Senin (06/06).

Johnson menang dengan suara tipis yakni 59 persen atau jika dikonversikan dalam pemilihan yakni 211 suara banding 148.

Beberapa anggota parlemen mengatakan pemungutan suara, yang menunjukkan 211 anggota parlemen memberikan suara mendukung Johnson melawan 148, lebih buruk dari yang diharapkan untuk seorang perdana menteri.

Johnson kemudian ditanya terkait hasil ini. Ia mengatakan, ini merupakan hasil yang cukup meyakinkan.

"Saya pikir ini adalah hasil yang meyakinkan, hasil yang menentukan dan apa artinya sebagai pemerintah," kata Johnson dikutip dari Reuters, Selasa (7/6).

Lebih lanjut, Johnson mengatakan saat ini dirinya tidak ada rencana untuk mempercepat pemilu nasional. Menurutnya saat ini fokus utama adalah bekerja demi kesejahteraan masyarakat Inggris.

"Kita dapat bergerak dan fokus pada hal-hal yang menurut saya benar-benar penting bagi rakyat," tutup dia.

Sebelumnya, Johnson menghadapi mosi tidak percaya akibat skandal Partygate. Skandal itu terkait bocornya laporan mengenai pesta alkohol yang dihadiri Johnson saat Inggris sedang lockdown ketat untuk menanggulangi COVID-19.

Partygate telah menjadi skandal politik terbesar yang menimpa PM Johnson sejak berkuasa pada 2019.

Beberapa anggota Pemerintahan Inggris dan Partai Konservatif diduga menggelar pesta saat pada 2020 hingga 2021. Pesta dilakukan saat Inggris melarang keras kerumunan orang demi mencegah penyebaran COVID-19.

Pesta penuh alkohol itu diduga berlangsung di gedung-gedung atau kediaman pemerintahan semisal 10 Downing Street dan The garden of 10.

Laporan media menyebut, pesta berlangsung begitu liar bahkan sampai ada perkelahian hingga muntah karena terlalu banyak meminum miras.

Pada awal 2022 kepolisian di London memulai investigasi terkait Partygate. Mereka menemukan ada 12 pesta yang digelar dan tiga di antaranya dihadiri oleh PM Johnson.