Uni Eropa menjatuhkan sanksi untuk mantan pesenam Rusia, Alina Kabaeva. Nama wanita cantik masuk ke dalam daftar hitam atau blacklist untuk pembekuan aset dan larangan visa.

Tidak diketahui secara jelas besaran aset yang dimiliki Kabaeva saat ini. Namun laporan BBC sebelumnya menyebut bahwa setelah pensiun menjadi pesenam, Kabaeva pindah ke dunia politik dan berhasil meraih kursi di majelis rendah parlemen Rusia tahun 2007-2014 dengan Partai Rusia Bersatu yang kini berkuasa.

Tahun 2014, Kabaeva memimpin National Media Group, yang memiliki saham utama di hampir semua media massa milik pemerintah Rusia.

Media-media itu terus menyiarkan pesan pro-Kremlin atas perang di Ukraina, dengan menuduh Ukraina menembaki kota-kota mereka sendiri dan mengklaim pasukan Rusia sebagai pihak pembebas.

Posisi strategis yang dijabat Kabaeva itu melambungkan statusnya sebagai perempuan kaya raya. Berdasarkan bocoran sebuah dokumen, dia berpenghasilan sekitar 12 juta dolar AS atau sekitat Rp174 miliar per tahun.



Dalam daftar sanksi Uni Eropa, nama Kabaeva bersanding dengan nama-nama 45 personel militer Rusia yang dicurigai terlibat kejahatan perang di kota Bucha, Ukraina.

Salah satunya adalah komandan senior Rusia Mikhail Mizintsev, yang dijuluki 'jagal Mariupol' karena mengawasi pengepungan brutal kota Mariupol.

Kabaeva dilaporkan telah menjadi incaran sanksi Uni Eropa sejak beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, AFP melaporkan bahwa Kabaeva turut diincar sanksi karena perannya dalam menyebarkan propaganda Kremlin dan karena 'berhubungan erat' dengan Putin.

Tidak diketahui secara jelas apakah jurnal resmi Uni Eropa soal rentetan sanksi terbaru itu menyebutkan Kabaeva sebagai pasangan Putin atau tidak.

Putin sendiri yang sangat tertutup, seperti dilansir BBC, pernah secara eksplisit menyangkal hubungannya dengan Kabaeva yang mantan pesenam Olimpiade ini.



Penjatuhan sanksi Kabaeva diumumkan bersamaan saat Uni Eropa resmi mengadopsi larangan impor minyak Rusia pada Jumat (03/06) waktu setempat.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (4/6/2022), rentetan sanksi terbaru ini menjadi sanksi gelombang keenam yang dijatuhkan Uni Eropa terhadap Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada 24 Februari lalu. Sanksi-sanksi terbaru ini mencakup pemutusan bank terbesar Rusia Sberbank dari sistem pesan global SWIFT.

Deretan sanksi itu dipublikasikan dalam jurnal resmi Uni Eropa, setelah para pemimpin Uni Eropa akhirnya sepakat menargetkan ekspor minyak yang penting bagi Rusia usai berminggu-minggu setelah menghadapi perlawanan Hungaria.