Ketidakhadiran Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri dalam pernikahan adik Presiden Joko Widodo (Jokowi), Idayati dengan Ketua Mahkamah Konstusi (MK), Anwar Usman terus menuai pro dan kontra.

Pendiri Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio (Hensat) bahkan menyebut, ketidakhadiran Megawati memiliki makna mendalam.

Megawati, kata Hensat, tidak ingin politik di tanah air dihiasi dengan praktik kolusi dan nepotisme (KKN). Ini lantaran perkawinan itu melibatkan dua lembaga tinggi negara, di mana MK berwenang dalam memutuskan gugatan UU buatan pemerintah dan DPR yang diajukan masyarakat.

“Ketidakhadiran Bu Mega saat pernikahan adiknya Pak Jokowi dengan Ketua MK bisa diartikan Bu Mega tidak setuju terciptanya potensi kolusi-nepotisme, demikian!” tegasnya lewat akun Twitter pribadinya, Senin (30/05/2022).

Terlepas dari itu, Hensat enggan menganalisa hubungan antara Megawati dan Jokowi. Baginya hubungan tersebut merupakan urusan pribadi keduanya.

“Bila tentang baik atau tidak relasi antara Mega dan Jokowi saat ini, biarlah mereka yang bicara, Kan udah gede,” pungkas Hensat.

Seperti diketahui, Ketua MK, Anwar Usman menikah dengan Idayati yang merupakan adik kandung Presiden Jokowi di Gedung Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah, Kamis (26/05/2022).

Pelaksanaan akad nikah akan dilakukan pada pukul 09.00 WIB dengan jumlah tamu terbatas yaitu 200 orang. Bertindak selaku wali nikah, Presiden Jokowi sendiri sebagai kakak dari pengantin wanita dan yang ditunjuk sebagai saksi adalah Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin dan Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa.