Meski sudah berlangsung selama lebih dari tiga bulan, perang antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Berbagai upaya sudah dilakukan beberana negara di dunia, namun belum juga bisa mendamaikan kedua negara tersebut. 

Puluhan sanksi negera-negara barat terhadap Rusia juga tidak membuat negara tersebut mengehentikan serangannya ke Ukraina. 

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengatakan, dia hanya ingin bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, membahas upaya untuk mengakhiri perang. 

"Presiden Federasi Rusia yang memutuskan semuanya. Jika kita berbicara tentang mengakhiri perang ini tanpa dia secara pribadi, keputusan itu tidak dapat diambil," kata Zelensky. 

Ditambahkan Zelensky, mengatur jadwal pembicaraan dengan Rusia kini menjadi lebih sulit setelah adanya bukti-bukti serangan Rusia terhadap warga sipil di Ukraina. 

Zelensky menjelaskan, temuan pembunuhan massal di daerah-daerah yang diduduki pasukan Rusia pada awal perang khususnya di luar Kyiv membuat lebih sulit mengatur pembicaraan dengan Putin, sedangkan dia tidak ingin berdiskusi dengan pejabat Rusia lainnya. 

"Saya tidak bisa menerima pertemuan apa pun dengan siapa pun yang datang dari Federasi Rusia selain presiden (Putin)," tegasnya. 

Para perunding Rusia dan Ukraina pun telah mengadakan pembicaraan sejak pasukan Rusia menyerbu Ukraina pada akhir Februari 2022 lalu, tetapi kedua pihak menyebut bahwa pembicaraan kini terhenti. 

Lebih jauh Zelensky menjelaskan di televisi Ukraina pekan lalu, tidak mungkin menghentikan perang tanpa melibatkan semacam diplomasi antara kedua pihak.

Dalam sambutannya kepada hadirin di Davos, Zelensky juga mengatakan bahwa perang datang dengan risiko nyawa manusia yang sangat besar bagi Ukraina. Meski begitu, Zelensky menuturkan, pasukan Ukraina membuat kemajuan terutama di dekat kota terbesar kedua Kharkiv.

"Tetapi situasi paling berdarah tetap ada di Donbass, tempat kita kehilangan sangat banyak orang" ujarnya. 

Zelensky menjelaskan, setiap wacana untuk memulihkan secara paksa semenanjung Crimea yang direbut dan dianeksasi oleh Rusia pada 2014 akan menyebabkan ratusan ribu korban.