Buntut penolakan ustadz Abdul Somad (UAS) masuk ke Singapura makin panas. Duta Besar Negeri Singa untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar menyatakan ogah meminta maaf.

Pernyataan itu diutarakan Anil setelah muncul desakan para pendukung UAS agar Singapura meminta maaf kepada sang penceramah kondang.

"Saya kira posisi kami sudah jelas dalam pernyataan MHA [Kementerian Dalam Negeri Singapura pada] 17 Mei, dan penjabaran Menteri hari ini seperti diberitakan media," kata Anil, mengutip cnnindonesia.com.

Dalam jumpa pers di Singapura, Menteri Dalam Negeri dan Hukum, K Shanmugam, membeberkan lagi alasan kuat negaranya menolak masuk UAS.

Menurutnya, UAS telah lama masuk dalam daftar radar pihak keamanan Singapura. Sebab, sejumlah warga Negara Kota itu telah diamankan gegara kasus radikalisasi setelah menonton video dakwah UAS.

Salah satu orang yang teradikalisasi, kata Shanmugam, ialahremaja 17 tahun yang ditahan di bawah UU Keamanan Internal pada Januari 2020.

Shanmugam menuturkan remaja itu rajin menonton dakwah UAS di YouTube, terutama terkait bom bunuh diri. Akibat paparan ajaran itu, katanya, remaja tersebut meyakini pelaku bom bunuh diri merupakan jihad.

"Dakwah Somad punya konsekuensi di dunia nyata," kata Shanmugam kepada wartawan di markas MHA.

Shanmugam juga menyoroti sikap para pendukung UAS yang radikal dan segera menyerang Singapura dengan berbagai ancaman di media sosial.

Menurut Shanmugam, UAS benar-benar menggunakan media sosial secara maksimal untuk menyebarkan pandangannya.

Para pendukung UAS, kata dia, langsung membanjiri halaman media sosial lembaga pemerintah termasuk pejabat politik dan dirinya dengan berbagai ancaman.

Shanmugam menuturkan pendukung UAS telah menyerukan ancaman seperti serangan siber situs pemerintah, media sosial, boikot Singapura, dan agar orang Indonesia berhenti mengunjungi Singapura.

Salah satu ancaman yaitu seruan untuk mengebom dan menghancurkan Singapura.

"Singapura negara kecil, tapiarogan. Dengan satu misil ditembakkan dan kalian tamat," bunyi salah satu komentar pendukung UAS di Facebook yang disorot Shanmugam 

Sejumlah pendukung UAS bahkan mengancam akan mengirim tentara Islam dan menyerang Singapura seperti tragedi 11 September 2001 atau 9/11 di New York.

"Semua karena kami menggunakan hak kami menolak seseorang masuk ke Singapura," kata Shanmugam seperti dikutip The Straits Times.

Shanmugam mengatakan Singapura tak menoleransi dan tak akan berpihak terhadap segala bentuk ujaran kebencian dan ideologi yang memecah belah.
Ia menegaskan perlakuan ini berlaku kepada setiap orang yang ingin masuk dan berada di Singapura.  

"Itu tak ditujukan pada individu tertentu atau agama tertentu, atau kebangsaan tertentu. Posisi kami berlaku sama untuk semua orang," Ungkap Shanmugam.

Shanmugam juga mendesak warga Singapura untuk berhati-hati dan cerdas dalam hal pengkhotbah agama asing dan ajaran yang berpotensi memecah belah.

"Terapkan penilaian Anda sendiri - Anda tahu apa yang membuat Singapura berhasil, Anda tahu apa yang baik untuk diri sendiri dan juga masyarakat," ujar Shanmugam.

"Semua orang bebas menjalankan agama mereka di sini. Setiap orang bebas untuk percaya pada Tuhan atau tidak percaya pada Tuhan, atau percaya pada tuhan mana pun yang mereka ingin percayai. Tapi kita tidak perlu melewati batas dan menyerang orang lain," paparnya menambahkan.

Ketika ditanya apakah ada indikasi bahwa UAS berencana berdakwah di Singapura, Shanmugam mengatakan: "Posisi kami sangat simpel. Orang seperti ini, kami tidak akan membiarkan mereka datang."

"Bahkan jika dia [UAS] dalam kunjungan pribadi, itu tidak menghalangi dia untuk mengatakan beberapa hal saat berada di sini, kan. Ini adalah hak kami untuk memutuskan apa yang dibutuhkan bagi keamanan negara kami," kata Shanmugam.

"Kami, Pemerintah, MHA, ISD (Departemen Keamanan Dalam Negeri), turun tangan ketika kami merasakan, menangkap, bahwa ada radikalisasi," katanya.