Sejak didirikan pada 1980, PT Brantas Abipraya kian mengukuhkan diri sebagai perusahaan spesialis bangunan air. Bermula dari Proyek Brantas di Jawa Timur, Abipraya kini telah membangun puluhan bendungan di seantero negeri. 

PT Brantas Abipraya (Persero) identik dengan bendungan dan bangunan air lainnya. Perusahaan plat merah yang didirikan pada 12 November 1980 ini sudah membangun puluhan bangunan air. Sebagian besar di antaranya berupa bendungan. Semangat Brantas Abipraya (Abipraya = Semangat) di tahun 1980, masih melekat erat hingga kini, 42 tahun kemudian. 

Semangat tersebut kian menebal manakala dibenamkan AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif) yang merupakan core values BUMN. Lewat AKHLAK, Brantas Abipraya berupaya untuk terus tumbuh menjadi perusahaan yang kompeten di bidangnya, adaptif terhadap perkembangan yang terjadi, bisa berkolaborasi dengan pihak lain, dan berjalan secara harmonis.

Direktur Utama PT Brantas Abipraya (Persero) Sugeng Rochadi mengatakan, saat ini perseroan memiliki empat pilar untuk pengembangan bisnisnya. Yakni air (bendungan) 50%; infrastruktur (jalan tol, jembatan, dermaga) 30%; bangunan atau gedung dan satu lagi energi 20%.

“Pekerjaan yang terbesar adalah bendungan, bagaimana tuntutan itu menjadi challenge (tantangan) dunia konstruksi untuk menyajikan suatu bentuk atau karya yang luar biasa. Dalam membangun bendungan itu harus mempunyai seni, memiliki kekuatan landscape dan pengerjaannya harus rapi serta menggunakan teknologi yang mumpuni,” kata Sugeng.

Secara portofolio, Brantas Abipraya sudah tidak diragukan lagi dalam membangun bendungan. Kementerian BUMN pun mendukung dan sudah membuat satu peta champion pengembangan bisnis perairan hingga ke luar negeri. Tercatat hingga akhir 2021, Brantas Abipraya telah menyelesaikan sebanyak 42 paket bendungan dan masih ada 12 paket pengerjaan bendungan yang masuk ke dalam rencana Proyek Strategis Nasional (PSN).

Salah satunya yakni Bendungan Semantok di Nganjuk, Jawa Timur yang akan menjadi bendungan terpanjang seAsia Tenggara; Bendungan Ciawi di Jawa Barat yang merupakan bendungan kering pertama di Indonesia; dan Bendungan Bener di Purworejo, Jawa Tengah yang akan menjadi bendungan tertinggi di Indonesia.

Saat ini perseroan juga melayani jasa perbaikan dan pemeliharaan bendungan yang telah lama beroperasi. 

“Kami menangani service bendungan, ini salah satu bentuk mitigasi yang kami lakukan, bentuk tanggung jawab pemerintah dengan konstruksi-konstruksinya dengan perkembangan masyarakat yang luar biasa di sekitar bendungan. Ada empat bendungan yang saat ini sedang kami lakukan service (perbaikan),” tutur pria yang hobi dengan ikan Koi karena melambangkan ketenangan. 

Disinggung soal SDM dan teknologi, Sugeng mengatakan bahwa SDM dan teknologi merupakan dua asset utama perseoran, tak terkecuali di Brantas Abipraya. Teknologi membuat suatu proses lebih akurat, efisien dan cepat. Akan tetapi, penggunaan teknologi yang tepat juga harus ditunjang dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. 

“Tanpa adanya SDM yang handal teknologi sebagus apapun itu tidak akan dapat berjalan dengan maksimal. Untuk itu, SDM dan teknologi harus selalu jalan beriringan untuk menunjang satu dengan lainnya,” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi Perseroan telah mendirikan School of Dam and Water Resources (17/3/2022). Merupakan sekolah bendungan pertama di Indonesia, diharapakan School of Dam ini dapat meningkatkan kompetensi dan keahlian tenaga kerja konstruksi, melahirkan ahli-ahli bendungan, serta menjawab tantangan perubahan teknologi dan ilmu yang berkembang terkait infrastruktur air, khususnya bendungan. 

Kembali ke Abipraya Sugeng Rochadi bukan orang baru di PT Brantas Abipraya (Persero) meski ia baru delapan bulan menjabat sebagai Direktur Utama. Bisa dikatakan hampir separuh umurnya ia dedikasikan untuk Brantas Abipraya. Lulus dari bangku perkuliahan Sugeng memulai karirnya di Brantas Abipraya tahun 1990. 

Ia dipercaya menjadi Kepala Proyek Sadang Maloso II Pinrang Sulawesi Selatan, hingga pada 2009 ia dipercaya sebagai Kepala Cabang III Surabaya dan pada 2012 menjadi General Manager Produksi Brantas Abipraya. Sugeng bercerita, baginya Brantas Abipraya merupakan rumah tempatnya kembali. Setelah malang melintang di BUMN Karya lainnya, kini ia kembalike Brantas Abipraya untuk membawa perubahan dalam mengembangkan core bisnis perusahaan di era digitalisasi.

“Tentunya di era globalisasi kami tidak hanya bermain di dalam negeri melainkan akan go international. Karena kami champion di air (bendungan dan water resources), salah satu visi ke depan kami adalah memaksimalkan kapasitas secara teknologi yang ada di Brantas Abipraya, yang kemudian kita juga melakukan upgrade transfer knowledge dari luar untuk kita masukkan ke dalam bisnis maupun teknologinya,” Sugeng menambahkan.

Kemudian pada 2014, ia ditunjuk menjadi Direktur Operasi III PT Hutama Karya (Persero) dan pada 2020 Sugeng menjabat sebagai Direktur Operasi III PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, hingga akhirnya pertengahan 2021 ia ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Brantas Abipraya oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Untuk itu pihaknya saat ini juga tengah mencari peluang kerjasama khususnya dari sisi finansial, dan kedepan tidak semua proyek dibiayai oleh Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

“Kami sedang melirik pangsapasar yang saat ini terbuka dengan investasi beberapa proyek smelter, yang tentu didalamnya ada fungsi hidro, baik itu resources-nya untuk reservoir air, PLTAnya atau fungsi dari sisi air baku. Ini kita coba manfaatkan dengan sinergi-sinergi investor asing yang saat ini akan kita kerjaka,” paparnya.

Kontribusi Brantas Abipraya di IKN Menanggapi megaproyek Ibu Kota negara Nusantara (IKN), Sugeng mengatakan bahwa IKN saat ini menjadi magnet amat kuat yang bisa menarik siapapun ke dalam medan magnetnya. Pembangunan IKN menjadi satu agenda prioritas bagi bangsa Indonesia saat ini.

“IKN saat ini menjadi suatu magnet yang besar, dimana kami harus jeli melihat peluang yang ada dan mensupport untuk berkontribusi di sana. Kami memiliki satu proyek bendungan di IKN yang berjarak kurang dari 30 menit dari Titik Nol Kilometer IKN,” urai pria jebolan Universitas Merdeka Malang dengan prodi Teknik Sipil tahun 1989 itu. 

Sugeng mengemukakan Brantas Abipraya juga akan terus memberikan kontribusi terhadap negeri dalam membangun infrastruktur yang sedang berlangsung saat ini di IKN dengan membangun Bendungan Sepaku Semoi di Kaltim. “Paling tidak proyek kami dekat dengan lokomotif pembangunan di IKN. Mudah-mudahan ini menjadi suatu euforia bagi Brantas Abipraya, semangat kami untuk dapat segera menyelesaikan Bendungan Sepaku Semoi ini yang direncanakan dapat beroperasi tahun 2022,” bebernya.

Ia menambahkan, kehadiran bendungan selain memberi nilai tambah, juga memberikan manfaat untuk daerah sekitar. Infrastruktur sumber daya air baik yang sedang dikerjakan maupun yang telah rampung ini akan menjadi jawaban dari tantangan climate change (perubahan iklim). Selain itu, melalui anak usahanya yakni PT Brantas Energi, perseroan juga berupaya mengurangi emisi karbon dan membantu pemerintah meningkatkan penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam mencapai netral karbon di 2060. 

“Brantas Energi satu-satunya anak perusahaan yang bergerak di bidang energi baru dan terbarukan. Di mana Abipraya adalah perintis EBT di dalam negeri,” terang pria kelahiran Tuban 56 silam itu.

Dia menambahkan, Brantas Energi telah memiliki beberapa pembangkit ramah lingkungan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). 

Menurut dia, hal ini sekaligus mendukung komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi karbon sesuai dalam Paris Agreement sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan internasional.

Tercatat saat ini sebesar 21,0 Megawatt (MW) pembangkit EBT telah dibangun oleh Brantas Energi. Adapun rinciannya yakni PLTM Sako-1 kapasitas(2X3 MW); PLTM Padang Guci-1 (3X2 MW); PLTM Padang Guci-2 (2X3,5 MW), PLTS Gorontalo (2 MWp). 

Selain itu, tahun ini perseroan menargetkan akan meresmikan PLTM Maiting Hulu-2 di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, dan akan memulai pembangunan PLTA Poigar (20 MW), serta berkolaborasi bersama PT Wika Industri Energi pembangunan PLTS terapung di bendungan Barang Milik Negara (BMN) milik Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat).

“Kita berharap ini salah satu upaya bagaimana Abipraya harus berkembang. Kesempatan tidak terulang dua kali, tapi kesempatan harus kita maksimalkan,” terang alumnus S2 Universitas Negeri Jakarta-2016.

Sumber: Majalah Konstruksi