Pertemuan Pertama tingkat Sherpa dari Global Crisis Response Group (GCRG) telah diselenggarakan secara virtual pada hari Jumat malam tanggal 13 Mei 2022. Pertemuan dipimpin oleh Deputi Sekretaris Jenderal PBB Amina Mohammed, dan dihadiri oleh para Sherpa GCRG dari Indonesia, Jerman, Denmark, Bangladesh, dan Senegal. Pertemuan juga diikuti oleh Perwakilan Tetap di PBB New York dari Pemerintah Bangladesh, Denmark, Indonesia, Jerman, dan Barbados, serta Sekretaris Jenderal United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD).

GCRG merupakan grup yang dibentuk oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang terdiri dari 6 (enam) Kepala Negara/Kepala Pemerintahan sebagai Champions Group of the GCRG yang bertujuan untuk mengkoordinasikan kebijakan dan implementasi dalam menangani krisis yang timbul dari dampak konflik Rusia - Ukraina dan pandemi Covid-19. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, sesuai dengan surat dari  Kementerian Luar Negeri, ditugaskan menjadi Sherpa GCRG untuk Indonesia.

Pertemuan pertama Sherpa GCRG tersebut membahas peran yang diharapkan atas pembentukan GCRG dan strategi advokasi untuk menyusun langkah aksi dan rekomendasi serta Roadmap GCRG untuk mengatasi situasi krisis yang tengah dihadapi, untuk diadvokasi kepada para Kepala Negara/Kepala Pemerintahan.

Deputi Sekretaris Jenderal PBB, Amina Mohammed, dalam pembukaannya menyampaikan, "Para Champions Group of the GCRG sangat dibutuhkan untuk menavigasi krisis yang multidimensional, terutama krisis pangan, energi, dan keuangan. Melalui forum ini, UN (PBB) berada dalam mode proaktif untuk memitigasi tantangan yang akan datang, dan dalam implementasinya akan berusaha untuk menyelaraskan dengan agenda-agenda di luar GCRG, seperti agenda pada Forum G7 dan G20."

Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, konflik geopolitik yang terjadi telah mengakibatkan krisis multidimensi, terutama pada sektor pangan, energi dan keuangan. GCRG akan mengemban tugas-tugas yang berat untuk merekomendasikan solusi dan mengurangi dampak buruk secara objektif dan netral, untuk semua pihak termasuk pihak-pihak yang sedang berkonflik. GRCG juga berupaya untuk mengevakuasi warga negara Ukraina dari Mariupol secepatnya, dengan membuka perbatasan negara-negara tetangga dan menyediakan bantuan kemanusiaan.

Hasil pertemuan GCRG akan disampaikan dalam bentuk Briefing Notes. Untuk pertemuan berikutnya di minggu depan, briefing notes akan dibagi dalam beberapa Sub-Group, yakni Fertilizer, Logistik, serta Investasi. Terkait rantai pasokan pangan global, Sesmenko Perekonomian sebagai Sherpa Indonesia turut menyampaikan bahwa saat ini beberapa bagian dunia bergantung pada Rusia dan Ukraina untuk pasokan pangan, yang sangat terganggu dengan adanya konflik. Gangguan ini juga diperparah dengan terjadinya lonjakan harga, terutama yang terkait dengan pengiriman barang dan logistik.

Lebih lanjut, Sesmenko Perekonomian menekankan pentingnya diversifikasi rantai pasokan ke sumber-sumber alternatif, dan pembangunan kapasitas kolektif untuk negara-negara yang terkena dampak. Sebagai pengekspor gas alam terbesar di dunia dan pengekspor minyak terbesar kedua di dunia, sanksi yang diterapkan kepada Rusia menyebabkan kenaikan harga energi secara signifikan.

"Negara-negara yang bergantung pada bahan bakar fosil, berjuang untuk menemukan sumber energi karena adanya sanksi ekonomi. Krisis mendorong kebutuhan yang mendesak, untuk penyediaan pasokan yang berkelanjutan dan percepatan transisi energi," ujar Sesmenko Perekonomian.

Terhadap isu keuangan global, Indonesia menyatakan kesiapannya untuk mendiskusikan cara untuk mengurangi risiko tinggi dari debt distress, terutama yang dihadapi oleh negara-negara berkembang dan negara berkembang berpenghasilan rendah, termasuk yang terkait dengan Inisiatif Penangguhan Layanan Utang (Debt Service Suspension Initiative).

Ketiga isu yang dibahas tersebut juga akan menjadi agenda prioritas pada Presidensi G20 Indonesia tahun ini. Working Group G20 yang relevan dengan isu-isu tersebut, akan melakukan sinkronisasi dan mensinergikan concrete deliverables-nya dengan program-program GCRG.

Selanjutnya, masing-masing Sherpa menyatakan pandangan awal mengenai krisis yang terjadi, di antaranya delegasi Bangladesh menyampaikan concern mengenai Food Security, serta saat ini negara tersebut memiliki kerja sama South-South dan Regional. "Peran negara maju dan negara berkembang akan sangat berpengaruh, oleh karena itu penting bagi GRCG untuk menyusun roadmap keterlibatan dan kolaborasi lebih dalam, serta mengusulkan High Level Political Forum pada Juli mendatang," tegas Sherpa GCRG dari Bangladesh, Ambassador H.E Mohammad Ziauddin.

Delegasi Denmark menawarkan sharing knowledge untuk transisi energi dan bagaimana peran EU secara global atas isu tersebut. Lebih lanjut, delegasi Jerman menyampaikan inisiatif yang telah dilakukan di G7 dalam mengatasi krisis pangan melalui Global Alliance for Food dan membuka partisipasi negara lain. Delegasi Jerman juga menambahkan bahwa pertemuan G7 pada Juni mendatang bersifat terbuka, tidak terbatas hanya pada anggota G7.

Sekretaris Jenderal UNCTAD, Rebecca Grynspan, menyatakan concern terhadap dampak harga logistik, isu energi, dan efek domino dari isu yang sedang terjadi. GCRG harus mulai untuk berorientasi pada “people”, tidak hanya berfokus pada “countries”.  "Tidak hanya akan menghasilkan rekomendasi, namun perlu segera bertindak agar konflik Rusia - Ukraina ini segera berakhir sehingga spillover effect tidak terjadi dalam jangka panjang," pungkas Grynspan.

Indonesia mengharapkan agar GCRG dapat mendukung dan terus melanjutkan program untuk mencapai Sustainable Development Goals termasuk pengentasan kelaparan, energi bersih dan terjangkau, serta pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi.

Deputi Sekretaris Jenderal PBB Amina Mohammed menyampaikan bahwa PBB mengapresiasi kepemimpinan Indonesia di Presidensi G20 Tahun 2022. Sama seperti di Forum G7, PBB telah memiliki beberapa rekanan untuk membahas agenda keamanan pangan. Deputi Sekretaris Jenderal PBB tersebut juga menyampaikan rencana kehadirannya untuk mewakili Sekjen PBB pada kegiatan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7 di Bali pada 23-28 Mei 2022.

Rangkaian pertemuan GCRG Champions selanjutnya akan dilaksanakan pada minggu ketiga atau keempat Mei 2022, yang akan dihadiri oleh Kepala Negara/Kepala Pemerintahan yang menjadi Champions Group of the GCRG. Salah satu yang diharapkan dari hasil pertemuan Champions Group antara lain agar para Kepala Negara/Kepala Pemerintahan memberikan dukungan terhadap rekomendasi yang dihasilkan oleh GCRG, yang diterbitkan dalam bentuk Brief Notes untuk mengatasi krisis pangan, energi, dan keuangan.