Mantan pramugari Garuda Indonesia, Siwi Widi Purwanti pada Selasa (10/05) lalu, bernyanyi di sidang lanjutan kasus dugaan suap pajak, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan terdakwa Wawan Ridwan dan Alfred Simanjuntak di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Perempuan cantik itu mengatakan, dirinya menggunakan uang Rp647.850.000 hasil cuci uang mantan pejabat pajak Wawan Ridwan untuk perawatan wajah di Korea.

Wawan diketahui merupakan Kepala Bidang Pendaftaran, Ekstensifikasi dan Penilaian Kantor Wilayah Ditjen Pajak Sulselbartra, sedangkan Alfred merupakan PNS Ditjen Pajak.

"Di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) ada digunakan untuk jalan ke luar negeri, belikan tas seperti BAP Ibu nomor 22 untuk jalan-jalan, belanja, beli jaket merek Gucci, dan untuk perawatan kecantikan di Korea?" tanya jaksa.

"Ya, seingat saya begitu," jawab Siwi.

Uang Rp647.850.000 didapat Siwi dari Muhammad Farsha Kautsar yang notabene merupakan anak kandung Wawan Ridwan.

Siwi mengungkapkan alasan Farsha bisa memberikannya uang ratusan juta rupiah tersebut. Kata dia, Farsha sedang berusaha mendekatinya.

"Waktu itu saya jadi teman dekatnya Farsha, waktu itu Farsha mengenal saya mengaku berusia 28 tahun sebagai pengusaha bukan mahasiswa. Dia mencoba mendekati saya dan ada obrolan di mana dia mencoba mencari perhatian pada saya dengan membayarkan sesuatu untuk saya," tutur Siwi.

Siwi mengaku tidak tahu sumber uang Farsha yang diberikan kepadanya. Menurutnya, Farsha mempunyai usaha, tapi dia tidak mengetahui jelas apa usaha Farsha Kautsar. "Dari uangnya sendiri," katanya.

Menurut Siwi, saat ini uang Rp 647 juta itu sudah dikembalikan ke KPK. Dia sudah menyerahkan uang itu dalam bentuk tunai ke penyidik KPK.

Sementara itu, Farsha yang turut dihadirkan sebagai saksi berkata lain. Ia mengaku memberi uang karena diminta oleh Siwi.

"Waktu itu yang bersangkutan minta dibelikan sebuah barang dan saya membelikan barang itu. Saya mentransfer ke Widi saat itu," kata Farsha.

Terkait kesaksian Siwi itu, KPK mengatakan akan menganalisis fakta persidangan yang terungkap itu. Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Rabu (11/05) kemarin mengatakan, nantinya jaksa akan menuangkan analisisnya dalam surat tuntutan. "Seluruh fakta persidangan dimaksud akan dianalisa lebih dahulu oleh tim jaksa," kata Ali.

Ali menerangkan perkara ini akan dikembangkan lebih lanjut, bila proses persidangan nanti ditemukan fakta hukum berdasarkan dua alat bukti yang sah.

"Sepanjang berdasarkan proses persidangan ini ternyata kemudian diperoleh fakta hukum berdasarkan setidaknya dua alat bukti yang sah maka tentu perkara ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Kita tunggu perkembangannya," kata Ali.

Wawan Ridwan dan Alfred Simanjuntak didakwa menerima suap sebesar Rp15 miliar dan 4 juta Singapur dolar atau sekitar Rp42.169.984.851 dari para wajib pajak terkait pemeriksaan perpajakan tahun 2016-2017.

Kedua terdakwa melakukan kejahatan bersama-sama dengan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan pada Ditjen Pajak tahun 2016-2019 Angin Prayitno Aji; Kepala Sub Direktorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak tahun 2016-2019 Dadan Ramdani; serta tim pemeriksa pajak Yulmanizar dan Febrian.

Suap diberikan oleh Aulia Imran Maghribi dan Ryan Ahmad Ronas selaku konsultan PT Gunung Madu Plantations; Veronika Lindawati selaku kuasa PT Bank PAN Indonesia (Panin) Tbk; serta Agus Susetyo selaku konsultan pajak PT Jhonlin Baratama.

Wawan dan Alfred masing-masing menerima uang sebesar 606.250 Singapur dolar atau total sekitar Rp12.935.897.609. Khusus untuk Wawan, ia juga dijerat dengan Pasal TPPU. Uang hasil kejahatannya diduga mengalir ke banyak pihak, termasuk Siwi.