Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memperkirakan Indonesia mengalami kerugian yang cukup dalam akibat perubahan iklim.

Menurut Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencana Pembangunan Nasional Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, potensi kerugian Indonesia bisa mencapai Rp544 triliun jika tidak serius menanggulangi perubahan iklim yang terjadi.

"Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi hingga Rp544 triliun pada periode 2020-2024 akibat perubahan iklim, jika tidak ada intervensi kebijakan khusus untuk memitigasi risiko perubahan iklim," ujar Amalia dalam Webinar, Rabu (11/5/2022).

Terkait dengan itu, lanjutnya, transisi ekonomi hijau menjadi satu keharusan yang penting dilakukan, sehingga risiko kerugian ke depan yang dihadapi bisa dimitigasi mulai saat ini.

Jika tidak, Amalia memperkirakan, cita-cita 100 tahun Indonesia maju pada tahun 2045 sulit di capai. "Indonesia harus menuju transisi kearah perekonomian baru agar visi Indonesia 2045 dapat tercapai untuk keluar dari middle income trap," kata Amalia.

Dia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan setidaknya dua strategi yang bakal dipakai kedepan utnuk menanggulangi krisis iklim agar tidak berdampak dalam terhadap perekonomian.

Pertama, memperkuat keyajan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas. Kedua, membangun lingkungan hidup, serta meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim.