Menurut ekonom Indef, M Rizal Taufikurahman pemerintah seharusnyanya  membatalkan rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL).  Termasuk juga, mengurangi subsidi BBM yang berarti harga Pertalite bakal naik.

Tak berhenti di situ,  Rizal mend pemerintah membatalkan rencana menaikkan harga elpiji (LPG) baik yang subsidi maupun non subsisi.

Pasalnya, ia melihat kebijakan tersebut bakal berdampak pada inflasi dan menggerus kualitas pertumbuhan ekonomi.

Dalam paparannya, Rizal menuturkan penyesuaian tarif dasar listrik akan menggerus konsumsi rumah tangga hingga minus 0,201 persen. Kemudian, menggerogoti 0,114 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Ujung-ujungnya, akan menekan upaya pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada tahun ini.

Apalagi, sambung dia, rencana kenaikan tarif dasar listrik, harga BBM, dan elpiji berbarengan dengan kenaikan harga-harga pangan, termasuk kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11 persen.

"Skenario kenaikan harga BBM, listrik, dan gas (LPG) bersubsidi akan berdampak terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi, yang kemungkinan besar tidak akan bertahan di angka 5 persen," ujarnya dalam siaran pers, Rabu (11/5).

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,01 persen pada kuartal I 2022 lantaran ditopang konsumsi masyarakat.

Hal ini tercermin dari realisasi pertumbuhan indikator konsumsi rumah tangga yang mencapai 4,34 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.

Tercatat, andil konsumsi rumah tangga menjadi yang terbesar ke pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 53,65 persen pada kuartal I 2022.

Selain konsumsi, andil pertumbuhan juga datang dari investasi yang tumbuh 4,09 persen dan berkontribusi sekitar 30,44 persen ke perekonomian.

Sisanya, pertumbuhan datang dari ekspor yang tumbuh 16,22 persen, konsumsi pemerintah yang terkontraksi 7,74 persen, konsumsi LNPRT 5,98 persen, dan impor 15,03 persen.