Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengundang pemimpin dua negara yang sedang berseteru untuk hadir pada KTT G-20 yang yang akan digelar di Bali, pada Oktober-November 2022 mendatang.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia, Vladimir Putin akan dipertemukan pertama kalinya sejak perang terjadi antara keduanya. 

Sayangnya, keputusan Jokowi tersebut disambut kurang baik oleh Amerika Serikat (AS), terutama terkait undangan yang disampaikan ke Putin.

Dalam sebuah sesi jumpa pers, Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki mengatakan Presiden AS, Joe Biden telah menyatakan secara terbuka menentang kehadiran Putin. Tapi di sisi lain, ia mengatakan AS sangat menyambut baik kehadiran Ukraina.

Kami telah menyampaikan pandangan bahwa kami tidak berpikir mereka (Rusia) harus menjadi bagian dari itu (G20) secara publik dan pribadi," katanya dikutip Straits Times.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jalina Porter mengatakan secara terpisah bahwa AS tidak percaya bisa hubungan 'bisnis seperti biasa' dengan Rusia di panggung internasional. Ia juga tidak berkomentar mengenai apakah Biden akan hadir di Bali.

Seperti diketahui, Jokowi mengundang kedua kepala negara yang tengah berselisih tersebut melalui sambungan telepon. 

Menurut Jokowi, G20 memiliki peran sebagai katalisator dalam pemulihan ekonomi dunia sehingga diharapkan melalui pertemuan ini kedua negara bisa berkomunikasi makin baik dan perang bisa segera dihentikan.

Dalam sebuah sesi pers, Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki mengatakan Presiden AS Joe Biden telah menyatakan secara terbuka menentang kehadiran Putin. Tapi disisi lain, ia mengatakan AS sangat menyambut baik kehadiran Ukraina.

Kami telah menyampaikan pandangan kami bahwa kami tidak berpikir mereka (Rusia) harus menjadi bagian dari itu (G20) secara publik dan pribadi," katanya dikutip Straits Times.