Gaya komunikasi Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Puan Maharani yang tidak bagus akan menuai respons negatif dari publik.

Hal itu disampaikan Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin merespons sindiran Puan Maharani terkait pemimpin (capres) berwajah ganteng yang hanya eksis di media sosial untuk pencitraan.

"Gaya komunikasi Puan akan dianggap tak bagus. Karena akan memantik respon yang negatif dari publik kepadanya," kata Ujang saat dihubungi, Sabtu (30/04/2022).

Menurut Ujang, seharusnya Puan memiliki gaya komunikasi yang bisa menaikkan elektabilitasnya. Bukan justru sebaliknya melakukan serangan ke lawan politiknya.

"Menyerang itu sesuatu yang tak baik dan itu akan membuat lawan politik menyerangnya balik," tuturnya.

Ujang lantas memberikan contoh di mana orang yang memakai gaya komunikasi politik menyerang lawan justru malah mendapatkan respons negatif. Gaya tersebut dipakai oleh Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Giring Ganesha terhadap Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

"Lihatlah gaya Giring menyerang Anies, bukannya Giring dapat nilai plus, tapi dibenci oleh publik. Itu pun sama akan menimpa Puan, jika Puan terus menerus menyerang lawan politiknya," tandasnya.

Diketahui, Puan Maharani memberikan nasehat terkait pemilihan capres di Pilpres 2024 mendatang. Ia mengimbau masyarakat agar memilih sosok capres yang benar-benar mencintai Indonesia.

Puan kemudian menyinggung soal masyarakat yang lebih memilih capres tampan daripada melihat kinerjanya yang baik.

“Kenapa saya ngomong ini? Kadang-kadang sekarang kita ini suka, yo wes lah dia saja, asal ganteng. Dia saja yang dipilih, asal bukan perempuan,” kata Puan, Jumat (29/04/2022).

“Yowes dia saja, walau nggak iso opo-opo tapi yang penting dia itu kalau di sosmed, di TV itu nyenengin. Tapi kemudian nggak bisa kerja, nggak deket rakyat,” imbuhnya.

Puan pun bertanya kepada kader PDIP terkait capres dengan kriteria seperti yang ia sebutkan.

“Mau atau nggak pemimpin kayak gitu?” tanya Puan Maharani. Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh kader PDIP. “Enggak,” jawab Kader PDIP yang hadir.

Kemudian, Puan Maharani bertanya kepada para kader dengan melihat capres tersebut, apakah memiliki perhatian terhadap rakyat Wonogiri atau tidak.

“Pernah enggak ketemu sama dia? Pernah enggak dia datang ke daerah ini? Misalnya, ke Wonogiri. Kalau ke Wonogiri ngapain? Ngebantu atau enggak, sowan atau enggak, ketemu enggak sama PDIP, ketemu enggak sama rakyat PDIP yang ada di Wonogiri, ketemu enggak sama rakyat Wonogiri?” ungkapnya.

Oleh karena itu, Puan mengingatkan agar para kader untuk menentukan pilihan capres berdasarkan kinerja dalam memperjuangkan rakyat.

“Jadi jangan kemudian kita itu asal pilih karena cuma kelihatan di panggung saja, panggung itu panggung media, panggung TV, panggung sosmed, tapi pilih orang yang betul-betul pernah memperjuangkan kita, pernah bersama-sama kita, pernah bergotong-royong bersama kita. Setuju atau enggak?” bebernya.