Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) akhirnya bersuara terkait meningkatnya kerusuhan di kompleks Masjid al-Aqsa, Yerusalem, yang terjadi pada Jumat (22/04) pekan lalu. 57 warga Palestina jamaah sholat Subuh terluka akibat serangan tentara Israel.

Kekerasan telah memicu ketakutan internasional akan konflik, satu tahun sejak serangan serupa oleh Israel menyebabkan perang 11 hari antara Israel dan militan yang berbasis di Gaza.

PBB secara khusus menyerukan penyelidikan independen atas aksi kekerasan yang dilakukan tentara Israel tersebut.

"Kami sangat prihatin dengan meningkatnya kekerasan di wilayah pendudukan Palestina dan Israel selama sebulan terakhir," kata juru bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM), Ravina Shamdasani.

Dia pun menyoroti aksi kekerasan pasukan Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa. "Penggunaan kekuatan oleh tentara Israel yang mengakibatkan (korban) luka luas di antara jamaah dan staf di dalam serta sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa harus segera diselidiki, tidak memihak, independen dan transparan," ucapnya.

Shamdasani menekankan, mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran apa pun harus dimintai pertanggungjawaban, Ia mengungkapkan, kekerasan yang dilakukan pasukan Israel di kompleks Al-Aqsa dan beredar luas di media sosial, menimbulkan kekhawatiran serius terkait penggunaan kekuatan sembarangan serta tidak perlu.

Dia pun menyoroti operasi penangkapan yang dijalankan tentara Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Menurutnya hal itu pun menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan kekuatan yang berlebih dan perlakuan buruk serta penangkapan sewenang-wenang terhadap anggota keluarga yang dicari.

"Beberapa pembunuhan, termasuk khususnya pasukan keamanan Israel yang menembak seorang wanita Palestina di Husan pada 10 April, menimbulkan kekhawatiran serius akan penggunaan kekuatan yang berlebihan dan perampasan nyawa secara sewenang-wenang," katanya.