Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, dana pemerintah daerah (pemda) yang mengendap di bank meningkat 10,38 persen atau mencapai Rp202,35 triliun pada Maret 2022.

Sri Mulyani menjelaskan, pada Maret 2020 dan 2021, dana pemda di perbankan masih di bawah Rp200 triliun, yakni sebesar Rp177,52 triliun dan Rp182,3 triliun.

"Ini menggambarkan sebetulnya pemda punya potensi besar untuk mendorong pemulihan ekonomi dengan menggunakan dananya, APBD-nya untuk bisa mengakselerasi pemulihan di masing-masing daerah," terang Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (20/4/2022).

Sri Mulyani berharap, pemda dapat melakukan belanja sesegera mungkin, seiring dengan percepatan transfer dana dari pemerintah pusat dan peningkatan penerimaan pajak daerah.

Berdasarkan laporannya, Jawa Timur menjadi daerah dengan jumlah dana mengendap di bank terbesar yakni mencapai Rp26,85 triliun. Sedangkan daerah dengan dana mengendap terkecil adalah Sulawesi Barat yakni Rp1,14 triliun.

Bendahara negara tersebut menegaskan, pemda diharapkan mampu melakukan eksekusi belanja, sehingga pada kuartal II dan III nanti akselerasi pemulihan ekonomi bisa terjaga.

"Pemda diharapkan mampu melakukan eksekusi belanja, maka kita harap pada kuartal II dan III nanti akselerasi pemulihan ekonomi bisa terjaga. Karena sekarang perekonomian sedang menghadapi tekanan dengan lonjakan harga komoditas yang sangat tinggi," tegas Sri Mulyani.