Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menanggapi kekerasan terbaru di kompleks Masjid al-Aqsa dengan "mengecam keras aksi kekerasan bersenjata aparat keamanan Israel terhadap warga Palestina".

Pernyataan itu disampaikan melalui akun Twitter resmi Kemenlu pada Sabtu (16/04) kemarin. "Tindakan kekerasan terhadap warga sipil tersebut tidak dapat dibenarkan dan harus segera dihentikan, apalagi dilakukan di tempat ibadah Masjid Al Aqsa di bulan suci Ramadan," tulis Kemenlu dalam twitnya.

Diketahui, aksi brutal tentara Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Jumat (15/04) subuh dini hari di bulan Ramadhan, ketika ribuan jemaah sedang berkumpul di masjid untuk sholat subuh.

Akibatnya, setidaknya 158 warga Palestina dikabarkan terluka dalam kekerasan ketika pasukan Israel menahan ratusan warga, seperti  dikutip dari Aljazeera, Sabtu (16/04).

Video yang beredar online, menunjukkan warga Palestina melempar batu dan polisi menembakkan gas air mata dan granat. Yang lain menunjukkan jamaah membarikade diri mereka di dalam masjid di tengah apa yang tampak seperti awan gas air mata.

Itu adalah kekerasan paling serius di tempat suci dalam hampir satu tahun. Warga Palestina melihat pengerahan besar-besaran polisi di Al-Aqsa sebagai provokasi.

Lembaga layanan medis darurat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan, telah mengevakuasi sebagian besar korban luka ke rumah sakit. Lembaga tersebut mengatakan salah satu penjaga di lokasi ditembak di mata dengan peluru berlapis karet.

Mereka pun menyebut, pasukan Israel menghalangi kedatangan ambulans dan paramedis ke masjid, ketika media Palestina mengatakan puluhan jemaah yang terluka masih terperangkap di dalam kompleks.

Sementara itu, Polisi Israel mengatakan mereka menangkap setidaknya 300 warga Palestina selama eskalasi terbaru. Namun, sumber-sumber Palestina menyebutkan jumlahnya 400. Tiga petugas terluka akibat "lemparan batu besar-besaran", katanya.

Polisi Israel mengatakan mereka memasuki kompleks, situs tersuci ketiga bagi umat Islam dan dihormati oleh orang-orang Yahudi sebagai Temple Mount, untuk membubarkan kerumunan "kekerasan" yang tersisa di akhir sholat subuh.

Mereka masuk "untuk membubarkan dan mendorong kembali" kerumunan setelah sekelompok orang Palestina mulai melemparkan batu ke arah ruang doa Yahudi di Tembok Barat.

Tetapi juru kamera Palestina Rami al-Khatib, yang menyaksikan serangan itu, mengatakan: "Mereka [pasukan Israel] secara brutal mengosongkan kompleks itu. Mereka menyerang staf masjid, orang biasa, orang tua, orang muda."

"Ada banyak orang yang terluka, mereka menembakkan peluru karet di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Mereka memukuli semua orang, bahkan paramedis, mereka memukul mereka," kata al-Khatib, yang mengalami patah tangan.