Imran Khan resmi diberhentikan sebagai Perdana Menteri (PM) Pakistan, Minggu (10/4/2022). Sebanyak 174 anggota parlemen mendukung mosi tidak percaya ke mantan pemain kriket berusia 69 tahun itu.

Ia membuat sejarah menjadi PM yang digulingkan lewat mosi tak percaya. Khan sendiri menjabat sejak 2018.

Peristiwa ini membuat Pakistan berada di jalur politik yang tidak pasti. Pendukung Imran Khan turun ke jalan sebagai bentuk protes, sementara oposisi politik bersiap untuk mengangkat penggantinya.

Puluhan ribu pendukung Khan berbaris di kota-kota di seluruh Pakistan, mengibarkan bendera partai besar dan bersumpah tetap mendukungnya.

Kaum muda yang merupakan tulang punggung pendukung Khan, mendominasi aksi tersebut.

Di kota Karachi, lebih dari 20.000 orang meneriakkan slogan-slogan yang menjanjikan kembalinya Khan ke tampuk kekuasaan.

Sedangkan di ibu kota Pakistan, Islamabad, ribuan pendukungnya menyalakan lampu yang menerangi langit malam, saat Khan melewati kerumunan di atas truk berwarna cerah.

Belakangan Khan menuding Amerika Serikat (AS) ada di belakang layar. Konon hal itu disebabkan oleh ketidaksenangan Washington atas pilihan kebijakan luar negerinya yang independen dan lebih condong pada China dan Rusia. 

Khan memang terkadang menentang AS dan pernah mengkritik keras perang AS pasca 9/11 untuk melawan teror. Khan juga mengatakan AS sangat terganggu dengan kunjungannya ke Rusia dan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 24 Februari lalu, ketika awal dari perang di Ukraina.

Departemen Luar Negeri AS telah membantah tuduhannya. Elizabeth Threlkeld, pakar Pakistan di The Stimson Center yang berbasis di AS, mengatakan bahwa bahkan ketika menjabat sebagai perdana menteri, Khan sering memainkan peran sebagai pemimpin oposisi.

"Pemecatannya akan membawanya ke peran yang dia kenal dengan baik, dipersenjatai dengan narasi korban dari klaim tidak berdasar atas campur tangan internasional," katanya.

"Pendukungnya akan tetap setia, meskipun saya berharap upaya kontroversialnya untuk tetap berkuasa akan berkurang," ujar Threlkeld seperti dikutip dari the Associated Press.