Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad beda pandangan. Dia merasa tak yakin banyak pengusaha nasional atau investor dalam negeri yang kepincut untuk mempertaruhkan duitnya ke mega proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, senilai Rp467 triliun.

Untuk proyek yang nilainya puluhan triliun sekelas proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Jakarta-Bandung saja, pemerintah mengandalkan investor asing, bukan investor lokal. Apalagi mega proyek IKN Nusantara.

“Yang kereta cepat saja sulit, harus pakai sebagian besar asing yang dananya hanya beberapa triliun, apalagi ini. Itu agak susah tetap perlu ada mitra,” kata Tauhid, dikutip dari kumparan, Sabtu (2/4/2022).

Tauhid menilai, jumlah investor di dalam negeri yang bergerak di pembangunan infrastruktur, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Padahal di proyek IKN ini juga akan dibangun kawasan pengembang meliputi fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan hingga pusat perbelanjaan.

“Kawasan inti itu pakai APBN mungkin yang tadi, Rp Rp 90 triliun. Baru di luar itu yang Rp 200 sekian triliun oleh KPBU, dan yang terakhir adalah kawasan pengembangan yang swasta bisa masuk dalam hal ini asing,” ujarnya.

Adapun terkait opsi urun dana untuk bangun IKN, Tauhid menilai hal itu bisa saja dilakukan. Namun,  jumlahnya tidak akan signifikan. Apalagi, belum tentu proyek IKN Nusantara ini sepenuhnya didukung rakyat secara mayoritas. Di sisi lain,  kebutuhan dana untuk proyel IKN ini hampir Rp500 triliun.

"Kalau pun ada gak berat sampai triliunan. Kecuali urun dana itu yang sifatnya investasi tapi tetap saja agak berat karena untuk proyek IKN sifatnya kan jangka panjang,” jelas dia.

Hal yang sama juga dikatakan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy. Dia menilai bahwa umumnya investor di dalam negeri adalah swasta yang berkaitan dengan BUMN. Jadi walaupun kemungkinan itu ada, namun kecil sekali.

“Alhasil pakem untuk investor IKN nanti, lagi-lagi harus diupayakan dari penamaan modal asing dan juga mengoptimalkan peran dari Lembaga Pembiayaan Investasi (LPI),” kata Yusuf.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengaku yakin kemampuan investor di dalam negeri cukup untuk membangun IKN. Hal itu dia utarakan saat disinggung wartawan terkait kabar mundurnya beberapa investor asing dari proyek IKN.

Kalau keraguannya seperti itu saya kira nggak perlu, karena kemampuan dalam negeri kapasitas dalam negeri bisa untuk melakukan investasi termasuk untuk menyelesaikan pembangunan ibu kota," kata Suharso di Gedung Bappenas Jakarta, Kamis (31/3/2022).

Suharso mencontohkan, pembangunan kota-kota besar di Indonesia yang bisa dibangun oleh para pelaku bisnis dalam negeri. Dia juga mengatakan saat ini sudah banyak investor swasta yang menyatakan minat berpartisipasi di proyek IKN, terutama investor di sektor properti.

"Sudah banyak, di properti banyak yang menawarkan. Tapi kan kita belum bisa menentukan bentuknya seperti apa," jelas menteri yang tengah menjalani proses cerai itu.